1. Hakikat Komunikasi Antar Budaya
Menurut Devito, ada dua hakikat komunikasi antar budaya,
yaitu:
a. Enkulturasi, Mengacu pada proses dengan mana
kultur ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagaimana
mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses
belajar, bukan melalui gen. Orangtua, kelompok teman, sekolah, lembaga keagamaan,
dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama di bidang kultur.
Enkulturasi terjadi melalui mereka.
b. Akulturasi Mengacu pada proses dimana kultur
seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur
lain. Menurut Kim, penerimaan kultur baru bergantung pada sejumlah faktor.
Imigran yang datang dari kultur yang mirip dengan kultur tuan rumah akan
terakulturasi lebih mudah. Demikian pula, mereka yang lebih muda dan lebih
terdidik lebih cepat terakulturasi daripada mereka yang lebih tua dan kurang
berpendidikan.
2.
Unsur-unsur Komunikasi Antar Budaya
Unsur-unsur sosio budaya ini merupakan bagian-bagian
dari komunikasi antarbudaya. Bila memadukan unsur-unsur tersebut, sebagaimana
yang dilakukan ketika berkomunikasi, unsur-unsur tersebut bagaikan
komponen-komponen suatu sistem stereo, setiap komponen berhubungan dengan dan
membutuhkan komponen lainnya. Unsur-unsur tersebut membentuk suatu matriks yang
kompleks mengenai unsur-unsur yang sedang berinteraksi yang beroperasi bersama-sama,
yang merupakan suatu fenomena kompleks yang disebut komunikasi antarbudaya.
Menurut Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat,
unsur-unsur komunikasi antarbudaya terdiri dari 3 unsur, yaitu:
1.
Persepsi, adalah proses internal yang dilakukan untuk memilih, mengevaluasi dan
mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Dengan kata lain,
persepsi adalah cara mengubah energi-energi fisik lingkungan menjadi pengalaman
yang bermakna. Komunikasi antarbudaya akan lebih dapat dipahami sebagai perbedaan
budaya dalam mempersepsi obyek-obyek sosial dan kejadian-kejadian. Suatu
prinsip penting dalam pendapat ini adalah bahwa masalah-masalah kecil dalam
komunikasi sering diperumit oleh perbedaan-perbedaan persepsi ini. Untuk
memahami dunia dan tindakan-tindakan orang lain, harus lebih dahulu memahami
kerangka persepsinya. Tiga unsur sosio budaya mempunyai pengaruh besar dan
langsung atas makna-makna yang dibangun dalam persepsi. Unsur-unsur tersebut
adalah sistem-sistem kepercayaan (belief), nilai (value), sikap (attitude);
pandangan dunia (world view), dan organisasi sosial (social organization).
Ketiga unsur utama ini mempengaruhi persepsi dan makna yang dibangun dalam
persepsi, unsur-unsur tersebut mempengaruhi aspek-aspek makna yang bersifat
pribadi dan subyektif.
a. Sistem-sistem kepercayaan, nilai, sikap
Kepercayaan secara umum dapat dipandang sebagai kemungkinan-kemungkinan
subyektif yang diyakini individu bahwa suatu obyek atau peristiwa memiliki
karakteristik-karakteristik tertentu. Kepercayaan melibatkan hubungan antara
obyek yang dipercayai dan karakteristik-karakteristiknya yang membedakannya.
Nilai-nilai adalah aspek evaluatif
dari sistem-sistem kepercayaan, nilai dan sikap. Dimensi-dimensi evaluatif ini
meliputi kualitas-kualitas seperti kemanfaatan, kebaikan, estetika, kemampuan
memuaskan kebutuhan, dan kesenangan. Meskipun setiap orang mempunyai suatu
tatanan nilai yang unik, terdapat pula nilai-nilai yang cenderung menyerap
budaya. Nilai-nilai budaya biasanya berasal dari isu-isu filosofis lebih besar
yang merupakan bagian dari suatu milleu budaya. Nilai-nilai ini umumnya
normatif dalam arti bahwa nilai-nilai tersebut menjadi rujukan seorang anggota
budaya tentang apa yang baik dan apa yang buruk, yang benar dan yang salah,
yang sejati dan palsu, positif dan negatif.
Nilai-nilai budaya adalah
seperangkat aturan terorganisasikan untuk membuat pilihan-pilihan dan
mengurangi konflik dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai dalam suatu budaya
menampakkan diri dalam perilakuperilaku para anggota budaya yang dituntut oleh
budaya tersebut. Nilai-nilai ini disebut nilai-nilai normatif. Kepercayaan dan
nilai memberikan kontribusi bagi pengembangan dan isi sikap. Diperbolehkan
mendefinisikan sikap sebagai suatu kecenderungan yang diperoleh dengan cara belajar
untuk merespon suatu obyek secara konsisten. Sikap itu dipelajari dalam suatu
konteks budaya. Bagaimanapun lingkungan, lingkungan itu akan turut membentuk
sikap, kesiapan untuk merespon, dan akhirnya merubah perilaku.
b. Pandangan
dunia (world view) Unsur budaya ini, meskipun konsep dan uraiannya abstrak,
merupakan salah satu unsur terpenting dalam aspek-aspek perceptual komunikasi
antarbudaya. Pandangan dunia berkaitan dengan orientasi suatu budaya terhadap
hal-hal seperti Tuhan, kemanusiaan, alam, alam semesta, dan masalah-masalah
filosofis lainnya yang berkenan dengan konsep makhluk. Pandangan dunia
mempengaruhi kepercayaan, nilai, sikap, penggunaan waktu, dan banyak aspek
budaya lainnya.
c. Organisasi sosial (social organization) Cara
bagaimana suatu budaya mengorganisasikan diri dalam lembaga-lembaganya juga
mempengaruhi bagaimana anggota-anggota budaya mempersepsi dunia dan bagaimana
mereka berkomunikasi.
2.
Proses-proses verbal tidak hanya meliputi bagaimana berbicara dengan orang lain
namun juga kegiatan-kegiatan internal berpikir dan pengembangan makna bagi
kata-kata yang digunakan. Proses-proses ini (bahasa verbal dan pola-pola
berpikir) secara vital berhubungan dengan persepsi dan pemberian serta
pernyataan makna.
Bahasa verbal. Secara sederhana bahasa dapat
diartikan sebagai suatu sistem lambang terorganisasikan, disepakati secara umum
dan merupakan hasil belajar, yang digunakan untuk menyajikan
pengalaman-pengalaman dalam suatu komunikasi geografis atau budaya. Bahasa
merupakan alat utama yang digunakan budaya untuk menyalurkan kepercayaan,
nilai, dan norma. Bahasa merupakan alat bagi orang-orang untuk berinteraksi
dengan orang-orang lain dan juga sebagai alat untuk berpikir. Pola-pola
berpikir. Pola-pola berpikir suatu budaya mempengaruhi bagaimana
individu-individu dalam budaya itu berkomunikasi, yang pada gilirannya akan
mempengaruhi bagaimana setiap orang merespon individu-individu dari suatu
budaya lain.
3.
Proses-proses nonverbal merupakan alat utama untuk pertukaran pikiran dan
gagasan, namun proses-proses ini sering dapat diganti oleh proses-proses
nonverbal. Proses-proses nonverbal yang relevan dengan komunikasi antarbudaya,
terdapat tiga aspek pembahasan: perilaku nonverbal yang berfungsi sebagai
bentuk bahasa diam, konsep waktu, dan penggunaan dan pengaturan ruang.
Perilaku nonverbal. Sebagai suatu komponen budaya,
ekspresi nonverbal mempunyai banyak persamaan dengan bahasa. Keduanya merupakan
sistem penyandian yang dipelajari dan diwariskan sebagai bagian pengalaman
budaya. Karena kebanyakan komunikasi nonverbal berlandaskan budaya, apa yang
dilambangkannya seringkali merupakan hal yang telah budaya sebarkan kepada
anggota-anggotanya. Lambang-lambang nonverbal dan respons-respons yang
ditimbulkan lambang-lambang tersebut merupakan bagian dari pengalaman budaya,
apa yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya. Setiap lambang
memiliki makna karena orang mempunyai pengalaman lalu tentang lambang tersebut.
Budaya mempengaruhi dan mengarahkan pengalamanpengalaman itu, dan oleh
karenanya budaya juga mempengaruhi dan mengarahkan bagaimana mengirim, menerima
dan merespons lambang-lambang nonverbal tersebut.
Konsep waktu suatu budaya merupakan filsafatnya
tentang masa lalu, masa sekarang, masa depan, dan pentingnya waktu itu. Waktu
merupakan komponen budaya yang penting. Terdapat banyak perbedaan mengenai
konsep ini antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya, dan
perbedaan-perbedaan tersebut mempengaruhi komunikasi. Penggunaan ruang. Cara
orang menggunakan ruang sebagai bagian dalam komunikasi antarpersonal disebut
proksemik (proxemics). Proksemik tidak hanya meliputi jarak antara orang-orang
yang terlibat dalam percakapan, tetapi juga orientasi fisik mereka. Orientasi
fisik juga dipengaruhi oleh budaya, dan turut menentukan hubungan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Joseph A. Devito, Komunikasi Antarmanusia (Jakarta:
Professional books, 1997), hlm. 479.
Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi
Antar Budaya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990), hlm. 27-36.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar