Senin, 11 Januari 2021

Hakikat dan Unsur Komunikasi Antar Budaya

 1.      Hakikat Komunikasi Antar Budaya

Menurut Devito, ada dua hakikat komunikasi antar budaya, yaitu:

a. Enkulturasi, Mengacu pada proses dengan mana kultur ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagaimana mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen. Orangtua, kelompok teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama di bidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka.

b. Akulturasi Mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain. Menurut Kim, penerimaan kultur baru bergantung pada sejumlah faktor. Imigran yang datang dari kultur yang mirip dengan kultur tuan rumah akan terakulturasi lebih mudah. Demikian pula, mereka yang lebih muda dan lebih terdidik lebih cepat terakulturasi daripada mereka yang lebih tua dan kurang berpendidikan.

2.  Unsur-unsur Komunikasi Antar Budaya

Unsur-unsur sosio budaya ini merupakan bagian-bagian dari komunikasi antarbudaya. Bila memadukan unsur-unsur tersebut, sebagaimana yang dilakukan ketika berkomunikasi, unsur-unsur tersebut bagaikan komponen-komponen suatu sistem stereo, setiap komponen berhubungan dengan dan membutuhkan komponen lainnya. Unsur-unsur tersebut membentuk suatu matriks yang kompleks mengenai unsur-unsur yang sedang berinteraksi yang beroperasi bersama-sama, yang merupakan suatu fenomena kompleks yang disebut komunikasi antarbudaya.

Menurut Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, unsur-unsur komunikasi antarbudaya terdiri dari 3 unsur, yaitu:

1. Persepsi, adalah proses internal yang dilakukan untuk memilih, mengevaluasi dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Dengan kata lain, persepsi adalah cara mengubah energi-energi fisik lingkungan menjadi pengalaman yang bermakna. Komunikasi antarbudaya akan lebih dapat dipahami sebagai perbedaan budaya dalam mempersepsi obyek-obyek sosial dan kejadian-kejadian. Suatu prinsip penting dalam pendapat ini adalah bahwa masalah-masalah kecil dalam komunikasi sering diperumit oleh perbedaan-perbedaan persepsi ini. Untuk memahami dunia dan tindakan-tindakan orang lain, harus lebih dahulu memahami kerangka persepsinya. Tiga unsur sosio budaya mempunyai pengaruh besar dan langsung atas makna-makna yang dibangun dalam persepsi. Unsur-unsur tersebut adalah sistem-sistem kepercayaan (belief), nilai (value), sikap (attitude); pandangan dunia (world view), dan organisasi sosial (social organization). Ketiga unsur utama ini mempengaruhi persepsi dan makna yang dibangun dalam persepsi, unsur-unsur tersebut mempengaruhi aspek-aspek makna yang bersifat pribadi dan subyektif.

a. Sistem-sistem kepercayaan, nilai, sikap Kepercayaan secara umum dapat dipandang sebagai kemungkinan-kemungkinan subyektif yang diyakini individu bahwa suatu obyek atau peristiwa memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Kepercayaan melibatkan hubungan antara obyek yang dipercayai dan karakteristik-karakteristiknya yang membedakannya.

Nilai-nilai adalah aspek evaluatif dari sistem-sistem kepercayaan, nilai dan sikap. Dimensi-dimensi evaluatif ini meliputi kualitas-kualitas seperti kemanfaatan, kebaikan, estetika, kemampuan memuaskan kebutuhan, dan kesenangan. Meskipun setiap orang mempunyai suatu tatanan nilai yang unik, terdapat pula nilai-nilai yang cenderung menyerap budaya. Nilai-nilai budaya biasanya berasal dari isu-isu filosofis lebih besar yang merupakan bagian dari suatu milleu budaya. Nilai-nilai ini umumnya normatif dalam arti bahwa nilai-nilai tersebut menjadi rujukan seorang anggota budaya tentang apa yang baik dan apa yang buruk, yang benar dan yang salah, yang sejati dan palsu, positif dan negatif.

Nilai-nilai budaya adalah seperangkat aturan terorganisasikan untuk membuat pilihan-pilihan dan mengurangi konflik dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai dalam suatu budaya menampakkan diri dalam perilakuperilaku para anggota budaya yang dituntut oleh budaya tersebut. Nilai-nilai ini disebut nilai-nilai normatif. Kepercayaan dan nilai memberikan kontribusi bagi pengembangan dan isi sikap. Diperbolehkan mendefinisikan sikap sebagai suatu kecenderungan yang diperoleh dengan cara belajar untuk merespon suatu obyek secara konsisten. Sikap itu dipelajari dalam suatu konteks budaya. Bagaimanapun lingkungan, lingkungan itu akan turut membentuk sikap, kesiapan untuk merespon, dan akhirnya merubah perilaku.

 b. Pandangan dunia (world view) Unsur budaya ini, meskipun konsep dan uraiannya abstrak, merupakan salah satu unsur terpenting dalam aspek-aspek perceptual komunikasi antarbudaya. Pandangan dunia berkaitan dengan orientasi suatu budaya terhadap hal-hal seperti Tuhan, kemanusiaan, alam, alam semesta, dan masalah-masalah filosofis lainnya yang berkenan dengan konsep makhluk. Pandangan dunia mempengaruhi kepercayaan, nilai, sikap, penggunaan waktu, dan banyak aspek budaya lainnya.

c. Organisasi sosial (social organization) Cara bagaimana suatu budaya mengorganisasikan diri dalam lembaga-lembaganya juga mempengaruhi bagaimana anggota-anggota budaya mempersepsi dunia dan bagaimana mereka berkomunikasi.

2. Proses-proses verbal tidak hanya meliputi bagaimana berbicara dengan orang lain namun juga kegiatan-kegiatan internal berpikir dan pengembangan makna bagi kata-kata yang digunakan. Proses-proses ini (bahasa verbal dan pola-pola berpikir) secara vital berhubungan dengan persepsi dan pemberian serta pernyataan makna.

Bahasa verbal. Secara sederhana bahasa dapat diartikan sebagai suatu sistem lambang terorganisasikan, disepakati secara umum dan merupakan hasil belajar, yang digunakan untuk menyajikan pengalaman-pengalaman dalam suatu komunikasi geografis atau budaya. Bahasa merupakan alat utama yang digunakan budaya untuk menyalurkan kepercayaan, nilai, dan norma. Bahasa merupakan alat bagi orang-orang untuk berinteraksi dengan orang-orang lain dan juga sebagai alat untuk berpikir. Pola-pola berpikir. Pola-pola berpikir suatu budaya mempengaruhi bagaimana individu-individu dalam budaya itu berkomunikasi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi bagaimana setiap orang merespon individu-individu dari suatu budaya lain.

3. Proses-proses nonverbal merupakan alat utama untuk pertukaran pikiran dan gagasan, namun proses-proses ini sering dapat diganti oleh proses-proses nonverbal. Proses-proses nonverbal yang relevan dengan komunikasi antarbudaya, terdapat tiga aspek pembahasan: perilaku nonverbal yang berfungsi sebagai bentuk bahasa diam, konsep waktu, dan penggunaan dan pengaturan ruang.

Perilaku nonverbal. Sebagai suatu komponen budaya, ekspresi nonverbal mempunyai banyak persamaan dengan bahasa. Keduanya merupakan sistem penyandian yang dipelajari dan diwariskan sebagai bagian pengalaman budaya. Karena kebanyakan komunikasi nonverbal berlandaskan budaya, apa yang dilambangkannya seringkali merupakan hal yang telah budaya sebarkan kepada anggota-anggotanya. Lambang-lambang nonverbal dan respons-respons yang ditimbulkan lambang-lambang tersebut merupakan bagian dari pengalaman budaya, apa yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya. Setiap lambang memiliki makna karena orang mempunyai pengalaman lalu tentang lambang tersebut. Budaya mempengaruhi dan mengarahkan pengalamanpengalaman itu, dan oleh karenanya budaya juga mempengaruhi dan mengarahkan bagaimana mengirim, menerima dan merespons lambang-lambang nonverbal tersebut.

Konsep waktu suatu budaya merupakan filsafatnya tentang masa lalu, masa sekarang, masa depan, dan pentingnya waktu itu. Waktu merupakan komponen budaya yang penting. Terdapat banyak perbedaan mengenai konsep ini antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya, dan perbedaan-perbedaan tersebut mempengaruhi komunikasi. Penggunaan ruang. Cara orang menggunakan ruang sebagai bagian dalam komunikasi antarpersonal disebut proksemik (proxemics). Proksemik tidak hanya meliputi jarak antara orang-orang yang terlibat dalam percakapan, tetapi juga orientasi fisik mereka. Orientasi fisik juga dipengaruhi oleh budaya, dan turut menentukan hubungan sosial.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Joseph A. Devito, Komunikasi Antarmanusia (Jakarta: Professional books, 1997), hlm. 479.

Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antar Budaya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990), hlm. 27-36.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Review Pertemuan 1-11 Mata Kuliah Komunikasi Lintas Budaya

 Citra Mutiara Devi ( E1/ B05219012 ) Pertemuan 1 ( 30-09-2020 ) Pada pertemuan pertama pada mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya, pak Ama...