Citra Mutiara Devi ( E1/ B05219012 )
Pertemuan 1 (
30-09-2020 )
Pada pertemuan pertama pada mata kuliah
Komunikasi Lintas Budaya, pak Amar selaku dosen memperkenalkan diri lalu beliau
menjelaskan mengenai kontrak belajar. Kemudian, beliau memposting video
pembelajaran materi Definisi, Ruang Lingkup dan Dimensi Komunikasi Lintas
Budaya yang selanjutnya, mahasiswa di minta untuk menyimak video lalu di beri
waktu 30 menit untuk mengomentari terkait video tersebut di kolom komentar
Google Classroom. Berikut ini rangkuman versi saya
dari penjelasan pak Amar serta komentar saya
dari video pembelajaran yang telah di posting oleh pak Amar, yaitu sebagai
berikut :
Di
video pertama : sebagai makhluk sosial kita tdk terlepas dengan yang namanya
komunikasi, apalagi kita sebagai orang Indonesia tidak lepas akan perbedaan
suku,budaya,ras,agama. Dalam video pertama, di referensikan seseorang yang
berasal dari Jakarta yg ingin berinteraksi dengan orang yang berasal dari Jawa,
namun komunikasi tersebut tidak berjalan dengan lancar karena hambatan cara
pandang negatif terhadap orang asing, dan mengenalisir kelompok/budaya. untuk
itu, kita harus memiliki sikap MINDFULNESS (cara pandang baru untuk memahami
perbedaan budaya) dan mempelajari budaya orang lain sebanyak mungkin untuk
menghindari culture shock. agar komunikasi lintas budaya kita efektif, serta
perlu menyadari akan perbedaan, dan jangan mengenalisir suatu kelompok/budaya karena
makna pesan terdapat pada orang nya bukan pada gerak-gerik.
Di
video Kedua : membahas soal komunikasi bisnis lintas budaya, cara mempromosikan
bisnis antar budaya dengan baik. Dua vidio tadi hanya sekedar sample ilustrasi
pentingnya pemahaman komunikasi lintas budaya satu dalam komunikasi keseharian
yang kedua komunikasi dalam bisnis. sudah barang tentu masih banyak contoh
fenomena kegagalan & kesuksesan komunikasi baik iitu interpersonal maupun
komunikasi lintas budaya. Eksistensi manusia dimuka bumi juga beragam dan salah satu diantara
penentu sukses & tidaknya eksistensial manusia dalam kehidupan juga
dipengaruhi oleh faktor pemahaman & kemampuan komunikasinya dan dalam
proses komunikasi kita dihadapkan dengan fenomena komunikasi interpersonal, intergroup,
ataupun interpersonal-group. jadi dalam
komunikasi ada hal penting yang perlu dikaji oleh mahasiswa ilmu komunikasi
& ini penting untuk pemahaman individu maupun kesiapan teori dalam rangka
mengekslorasi pendalaman teori-teori komunikasi salah satunya teori-teori
komunikasi lintas budaya. yang kan kita kaji dalam satu semester ke depan.
Pada video ketiga : membahas mengenai teori komunikasi lintas budaya,
yakni
1. Teori
negosiasi wajah : Bagaimana orang2 dari budaya berbeda dapat menjalin hubungan,
dan juga menyelesaikan masalah berdasarkan muka di setiap budaya. Wajah juga
dapat mencerminkan gambaran diri terhadap orang lain.
2. Teori Pengurangan ketidakpastian : Ketika
bertemu dengan orang yang baru dikenalnya, seseorang cenderung tidak memiliki
definisi yang akurat terhadap orang tersebut, sehingga menimbulkan keadaan yang
tidak mengenakkan. untuk mengatasi hal ini strategi nya ialah dengan pencarian
informasi melalui komunikasi.
3. Teori
bahasa dalam budaya : Bahasa merupakan alat verba untuk komunikasi, ada yang
mengatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi kebudayaan, sehingga segala hal yang
ada dalam kebudayaan akan tercermin di dalam bahasa. Sebaliknya, ada juga yang
mengatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi kebudayaan dan cara berpikir manusia
atau masyarakat penuturnya.
4. Teori
Pelanggaran : menggambarkan bahwa seseorang memiliki harapan kepada orang lain
yang dapag memberikan kenyamanan.
5. Teori
Speech code : mengenai kata-kata yang khas dari sebuah kebudayaan dan juga
menekankan pada aspek perbedaan antara suatu budaya dengan kebudayaan lainnnya
atau kecirikhasan. tujuan teori, untuk memahami perbedaan budaya dan bagaimana
proses menyesuaikan diri pada suatu kebudayaan. jadi, dalam proses komunikasi,
kita harus menghargai lawan bicara kita, agar pesan yang disampaikan dpt
diterima dengan baik.
Tak dipungkiri bahwa kemjuan teknologi komunikasi & transportasi
dewasa ini telah memungkinkan manusia di berbagai penjuru dunia saling mengenal
dan berhubungan erat tidak sekedar tetangga antar desa atau antar pulau. Dalam
beberapa menit saja hubungan ini bisa dilakukan. Banyak fenomena terjadi
seperti tergambar dalam vidio yang sdh saya tayangkan, jika kita tidak
mengenali tentang pemahaman Komunikasi Interpersonal maupun lintas budaya akan
cenderung jadi masalah, sementara jika kita memahami karakter & teori2
komunikasi maka kita akan survive dalam mengahadapi universalisasi &
teknonolgi komunikasi yang berkembang khususnya Komunikasi Lintas Budaya.
Penjelasan yang di berikan pak Amar
ini sangat mudah di pahami, terutama saat beliau memberikan contoh nyata di
kehidupan sehari-hari. Perkuliahan pada pertemuan pertama ini berakhir tepat
waktu. Semoga pada pertemuan ini bermanfaat, lalu pak Amar mengakhiri dengan
membaca do’a.
Pertemuan 2 (
07-10-2020 )
Pada pertemuan kedua ini, pak Amar tidak
bisa masuk untuk mengisi kelas karena beliau sedang ada workshop penyusunan LED
FDK. Jadi beliau memberikan tugas deskripsi singkat mengenai Definisi, Ruang
Lingkup dan Dimensi Komunikasi Lintas Budaya dengan menyertakan referensi
terkait dengan materi tersebut. Berikut ini hasil dari tugas saya sebagai berikut :
1.
Definisi
Komunikasi Lintas Budaya
Sebelum kita
mengetahui apa definisi dari Komunikasi Lintas Budaya, kita harus mengetahui
terlebih dahulu tentang hubungan antara komunikasi dengan budaya itu
sendiri. Seperti yang kita ketahui bersama, komunikasi akan diawali dengan
asumsi bahwa komunikasi berhubungan dengan kebutuhan manusia dan terpenuhinya
kebutuhan berinteraksi dengan manusia-manusia lainnya. Kebutuhan berhubungan
sosial ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan
untuk mempersatukan manusia-manusia yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi.
Adapun budaya itu sendiri berkenaan dengan cara hidup manusia. Bahasa,
persahabatan, kebiasaan makan, praktek komunikasi, tindakan-tindakan sosial,
kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik dan teknologi semuanya didasarkan pada
pola-pola budaya yang ada di masyarakat. Budaya dan komunikasi tak dapat
dipisahkan satu sama lain, karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara
dengan siap, tentang apa dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia
miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan
menafsirkan pesan. Budaya merupakan landasan komunikasi sehingga bila budaya
beraneka ragam maka beraneka ragam pula praktek-praktek komunikasi yang
berkembang. Para
pakar komunikasi telah memberikan gambaran yang beragam tentang definisi
komunikasi. John R. Wenburg dan William W.Wilmot juga Kenneth K. Sereno dan
Edward M. Bodaken menjelaskan setidaknya ada tiga kerangka pemahaman mengenai
komunikasi, yakni komunikasi sebagai tindakan satu arah, komunikasi sebagai
interaksi, dan komunikasi sebagai transaksi. (Prof. Deddy Mulyana, MA, Ph.D,
Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar, Rosda, Bandung, 2012 : 67 ). “Who says what
in which channel to whom with what effect?”, definisi komunikasi menurut Harold
D. Lasswell2 diatas memberikan gambaran tentang komunikasi sebagai suatu proses
transmisi pesan. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan yang bersifat satu
arah dari komunikator (penyampai pesan) kepada komunikan (penerima pesan)
dengan menggunakan media tertentu sehingga memunculkan efek. (Harold D.Lasswell
(1902-1978) adalah salah satu four founding fathers atau pelopor dari
perkembangan ilmu komunikasi.) Menurut
P. Clint Rogers (2009), Komunikasi lintas budaya adalah
suatu bidang studi yang meneliti beberapa cara yang dilakukan oleh
manusia. Cara – cara tersebut datang dari beberapa manusia yang memiliki latar
belakang budaya berbeda untuk berkomunikasi dengan manusia yang lainnya (Cross-Cultural Issues in Online
Learning dalam IGI
Global Disseminator of Knowledge). Menurut Joseph A Devito, dalam
bukunya “Communicology an introduction
to the study of communication”,Harper & Row, New York, 1976
mengatakan bahwa komunikasi lintas budaya berbeda dengan komunikasi antar
budaya. Jika komunikasi lintas budaya lebih menekankan pada perbandingan
pola-pola komunikasi antarpribadi diantara peserta komunikasi yang berbeda
kebudayaan, maka studi komunikasi antarbudaya lebih mendekati objek melalui
pendekatan kritik budaya.
2.
Dimensi
Komunikasi Lintas Budaya
Pemahaman Dimensi Komunikasi Lintas
Budaya yang dirumuskan oleh Geert Hofstede (1984) menyatakan bahwa budaya
adalah pemograman kolektif dari pikiran yang membedakan anggota satu kelompok
atau kategori orang dari yang lain. Hofstede dipandang berkonstribusi besar
terhadap manajemen lintas budaya melalui berbagai penelitian tentang lintas
budaya khususnya dampak perbedaan budaya nasional terhadap manajemen. Melalui
penelitiannya tersebut, Hofstede mengidentifikasi perbedaan mendasar antara
budaya nasional dan menemukan empat dimensi budaya yang masing-masing
merepresentasikan sebuah perbedaan yang berdasarkan garis lurus. Adapun dimensi budaya menurut Hofstede adalah sebagai
berikut :
a.
Power distance. Jarak kekuasaan adalah sejauh mana anggota dengan
kekuasaan terbatas dari suatu institusi dan organisasi dalam sebuah negara
berharap dan menerima bahwa kekuasaan tersebut didistribusikan secara tidak
merata.
b.
Uncertainty avoidance. Penghindaran
ketidakpastian merujuk pada sejauh mana anggota suatu budaya merasa terancam
oleh situasi yang tidak pasti dan tidak diketahui.
c.
Individualism – collectivism. Individualisme
adalah sebuah masyarakat dimana hubungan antara individu bersifat longgar dalam
artian setiap orang diharapkan untuk menjaga dirinya sendiri dan keluarga
dekatnya saja. Kolektivisme adalah sebuah masyarakat dimana orang sejak lahir
dan seterusnya diintegrasikan ke dalam keadaan yang kuat, kohesif dalam
kelompok, yang sepanjang masa hidup manusia ters melindungi mereka dengan
imbalan kesetiaan yang tidak diragukan lagi.
d.
Masculinity – femininity. Maskulinitas
merujuk pada sebuah masyarakat dimana peran sosial gender sangatlah jelas
berbeda, misalnya pria seharusnya bersikap asertif, kuat, dan fokus pada
kesuksesan materi. Sedangkan wanita seharusnya bersifat sederhana, lembut, dan
peduli dengan kualitas hidup. Femininitas merujuk pada sebuah masyarakat dimana
peran sosial gender saling tumpang tindih antara pria dan wanita.
e.
Long-term – short term orientation. Dimensi
budaya kelima yaitu orientasi jangka panjang dan orientasi jangka pendek
merupakan dimensi tambahan yang dikemukakan oleh GLOBE. Yang dimaksud dengan
orientasi jangka panjang adalah pembinaan kebajikan yang berorientasi pada
penghargaan masa depan khususnya ketekunan dan hemat. Sedangkan, yang dimaksud
dengan orientasi jangka pendek merujuk pada pembinaan kebajikan terkait dengan
masa lalu dan masa kini khususnya menghormati tradisi, pelestarian budaya, dan
memenuhi kewajiban sosial.
Berbagai dimensi budaya tersebut umumnya digunakan untuk
mengelola multikulturalisme. Berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh para
ahli kerapkali mengaitkan berbagai dimensi budaya dengan negosiasi guna
meningkatkan kemampuan manajer untuk menjelaskan dan memprediksi dampak budaya.
3.
Ruang Lingkup
Komunikasi Lintas Budaya
Penelitian komunikasi lintas budaya
memfokuskan perhatian pada bagaimana budaya-budaya yang berbeda berinteraksi
dengan proses komunikasi; bagaimana komponen-komponen komunikasi berinteraksi
dengan komponen-komponen budaya. Komponen-komponen Budaya Disiplin yang menelaah
komponen-komponen budaya adalah antropologi budaya, sehingga penelitian
komunikasi lintas budaya harus mengacu pada disiplin tersebut dalam
mengidentifikasi dan mendeskripsikan komponen budaya. Asante mengemukakan enam
komponen budaya yang penting: 1. Komponen Pandangan Dunia. Setiap budaya punya
caranya yang khas dalam memandang dunia-dalam memahami, menafsirkan dan menilai
dunia. Ketika komunikasi lintas budaya terjadi, pandangan dunia akan
mempengaruhi proses penyandian dan pengalihasandian. Pandangan dunia juga dapat
dipakai untuk memdiagnosis “noise” yang terjadi dan menunjukkan “terapi”-nya.
2. Komponen Kepercayaan (beliefs). Salah satu unsur kepercayaan yang sangat
penting dalam komunikasi lintas kultural adalah citra (image) kita dengan
komunikasi dari budaya lain. Citra mempengaruhi perilaku kita dalam hubungannya
dengan orang yang citranya kita miliki. Citra menentukan desain pesan
komunikasi kita. 3. Komponen nilai. Sistem nilai masyarakat dalam budaya
tertentu mempengaruhi cara berpikir anggota-anggotanya. Spranger mengemukakan
kategori nilai yang terkenal antara lain: nilai ilmiah, nilai religius, nilai
ekonomis, nilai estetis, nilai politis dan nilai sosial. 4. Nilai sejarah Lewat
sejarah yang mereka ketahui, anggota masyarakat saling bertukar pesan dalam
komunikasi lintas budaya. 5. Komponen Mitologi. Mitologi suatu kelompok budaya
memberikan pada kelompok pemahaman hubungan-hubungan, yakni, hubungan orang
dengan orang, orang dengan kelompok luar, dan orang dengan kekuatan alami. 6.
Komponen otoritas status. Setiap budaya mempunyai caranya sendiri dalam
mendiskusikan otoritas status. Bersamaan dengan otoritas status ada permainan
peran yang ditentukan secara normatif.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyana, Deddy, and Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi antarbudaya. Remaja
Rosdakarya, 1990.
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/05/komunikasi-antar-budaya-definisi-dan.html
. diakses pada 7 Oktober pukul 9.10
https://pakarkomunikasi.com/manajemen-komunikasi-lintas-budaya.
diakses pada 7 Oktober 2020 pukul 10.05
Pertemuan 3 (
14-10-2020 )
Pada pertemuan ketiga pada mata kuliah
Komunikasi Lintas Budaya, pak Amar menjelaskan materi melalui Google Meeting.
Setelah itu, beliau memposting video terkait dengan materi di Google Classroom.
Kemudian mahasiswa di minta untuk menyimak video dengan di beri waktu 30 menit
lalu mengomentari video tersebut. Berikut ini rangkuman versi saya dari penjelasan pak Amar serta komentar mengenai
materi Komunikasi Internasional yaitu sebagai berikut :
Komunikasi
Internasional
Komunikasi internasional, kata
Stevenson (1994:543): “It’s hard to define, but you know it when you see it”.
Selain sulit didefinisikan, para ahli komunikasi pun memberi istilah yang
saling berbeda tentang komunikasi internasional ini. Ada yang menyebutnya
dengan istilah “global communication” (Maulana), “world communication”
(Hamelink, 1994), atau “transnational communication” (volkmer). Sementara
Kamalipour (2002:xii-xiii) selain menerima istilah di atas, ia menambahkan pula
istilah “transborder communication, intercultural communication, cross-cultural
communication dan international relations” sebagai padanan lain dari istilah
komunikasi internasional”. Bagi Kamalipour, semua istilah itu mengandung konsep
yang multidimensional dan sangat kompleks. Karena itu, setiap usaha merumuskan
definisi yang sederhana pasti hasilnya tidak lengkap dan akan mengundang
perdebatan. Kata “international” didefinisikan Collins English Dictionary
(2006:417) sebagai: “1) of or involving two or more nations..”. Rumusan ini menjelaskan
adanya hubungan antarnegara-bangsa satu dengan yang lainnya. Dari defenisi ini,
dapat dipahami bila ada yang mengartikan komunikasi internasional oleh McMillin
(2007:8) sebagai:”komunikasi yang berlangsung antarbatas persilangan
internasional yakni yang melintasi batas-batas negara-bangsa”(Fortner, 1993:6).
Sementara McPhail merumuskan komunikasi internasional sebagai “The cultural
economical, political, social and technical analysis of communication patterns
and effects across and between nationstate”(2000:2).
Dari definisi-definisi itu dapat dilihat
bahwa komunikasi internasional lebih berfokus sebagai bagian dari studi
hubungan internasional (Mowlana, 1996;1997). Fokus hubungan internasional
selama ini berpusat pada interaksi antarnegara dan antarpemerintahan yang
dilakukan melalui diplomasi dan aktivitas propaganda yang menempatkan negara
yang kuat mendikte agenda komunikasi negara yang lemah. Allyne (1995:7)
misalnya, mengaitkan hubungan internasional dengan komunikasi internasional.
Bila hubungan internasional diartikan substansial sebagai kekuasaan (power),
maka ada tiga kekuasaan yang menonjol dalam dinamika hubungan internasional,
yakni: militery power, economic power and power over opinion. Unsur power over
opinion inilah yang secara khusus menjadi bahasan dari kajian komunikasi
internasional.
Sejarah
Komunikasi Internasional
“Sejarah komunikasi internasional dan
pertukaran budaya” kata Kamalipour, dalam Global Communication (2002:viii),
“sama tuanya dengan peradaban manusia”. Masyarakat beradab yang tidak pernah
dipengaruhi oleh kebudayaan lain, tak akan pernah ada. Pada masa kuno atau abad
pertengahan saling mempengaruhi peradaban adalah sesuatu yang lumrah. Tidak ada
seorang pun yang mengeluhkannya. Tetapi belakangan, tepatnya sejak abad ke-19
pengaruh kebudayaan asing mulai menjadi masalah karena dua alasan kata
Kamalipour. Pertama, batas dan skala pengaruh kebudayaan asing meningkat
signifikan. Kedua, bangkitnya nasionalisme di banyak kawasan negeri telah
mempengaruhi cara pandang orang terhadap kebudayaan asing. Lahirnya komunikasi
internasional di Amerika, Inggris, dan hampir di seluruh kawasan Eropa adalah
pada abad 20 dalam konteks propaganda, ekspansi nasional dan penaklukan. Untuk
kepentingan riset propaganda, Amerika pada PD I dan II telah membentuk program
komunikasi internasional sebagai bidang studi yang resmi di berbagai
universitas Amerika Utara. Para sarjana komunikasi antara 1920-an hingga
1950-an banyak berasal dari disiplin ilmu sosiologi, ekonomi dan ilmu
politik(McMillin,2007:28). Pada 1926 Harold D. Lasswell mengkaji teknik-teknik
perang psikologis bersama Walter Lippman, editor devisi propaganda Amerika.
Mereka mempelajari efek teknologi komunikasi terhadap dunia Barat. Hasilnya
kemudian, membawa bidang studi komunikasi menjadi bagian dari ilmu sosial.
Keduanya – Lippman dan Lasswell – mempromosikan rumus: “who – say what – to
whom - with what effect”.
Pada 1955 Massachusetts Institute of
Technology (MIT), Amerika, telah membuka sebuah program studi, bernama:”Studi
Komunikasi Internasional” yang disponsori oleh yayasan perguruan tinggi itu
(Allyene, 1997:9). Sejak 1960-an bidang studi ini kemudian dilembagakan di
Amerika sebagai salah satu bagian dari bidang studi “Hubungan Internasional”.
Banyak sarjana komunikasi internasional dididik dengan latar belakang hubungan
internasional seperti misalnya, Hamid Maolana. Sementara yang lain
berlatarbelakang ilmu sosiologi seperti Everet M. Rogers dan ilmu psikologi
seperti Karl Nordenstreng. Sehabis Perang Dunia II, terjadi Perang Dingin (Cold
War) antara Blok Barat yang dipimpin Amerika dengan Blok Timur yang dipimpin
Uni Soviet. Perang ini berlangsung dari 1945 hingga 1989 saat tembok Berlin
runtuh. Amerika mewakili ideologi kapitalis dan Soviet mewakili ideologi
sosialis. Dalam konteks pergulatan komunikasi internasional, Amerika
memperjuangkan laissez-faire dan free flow of information yang digagas Komisi
Huchin. Belakangan Unesco juga menuntut free flow across border to lead better
world yang didukung para peneliti program riset komunikasi internasional (KI)
yang tergabung dalam MIT Center for International Studies. MIT ini lalu
membentuk Program Riset dalam Komunikasi Internasional yang dipimpin Lasswell,
Ithiel de Sola Pool, Karl Dutsch, Daniel Lerner, Schramm, dan Lucian Pye. Riset
mereka didanai Ford Foundation.
Keterlibatan Amerika dalam PD II dengan
Soviet, membuat para peneliti bias Barat karena strategi KI dirancang agar
proBarat dan anti-komunis. Paradigma KI yang menjual doktrin free flow dan the
ideal to lead better world kemudian dilegitimasi oleh metoda riset komunikasi
yang berpusat pada efek empiris media yang diprakarsai Lasswell, Lazarsfeld dan
Hovland. Lahirnya paradigma pembangunan modernisasi yang di dalamnya
menempatkan media sebagai magic multiplyer effects pembangunan, telah dijadikan
sarana untuk mencapai cita-cita perubahan masyarakat dari tradisonal menuju
modern. Namun sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi, agensi-agensi
kantor berita Barat seperti Reuters atau French Press Agency dan Associated
Press (AP) telah mengkonstruksi realitas dunia menurut persepsi Barat. Kala
itu, Barat lebih banyak memberitakan berbagai peristiwa negatif negara-negara
Dunia Ketiga seperti Amerika Latin, Afrika dan Asia. Mereka digambarkan sebagai
negara yang penuh bencana, kudeta, revolusi dan berita-berita negatif lainnya.
Di tengah kondisi demikian, datang tawaran pinjaman utang luar negeri, alih
teknologi dan resep budaya agar negara-negara Dunia Ketiga mengikuti jalan
modernisasi Barat dan sebagian negara Amerika Latin, Afrika dan Asia pun
mengikuti jalan tersebut.
Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, pada
1960-an diam-diam muncul para sarjana komunikasi Eropa yang tergabung dalam
International Association Communication Research (IAMCR). Kelompok ini berasal
dari Association for Education in Journalism and mass Communication (AEJMC) yng
memiliki tradisi riset kritis. Dengan bantuan Unesco, mereka membentuk
Education and Research in International Communication. Dalam riset-riset
mereka, ditemukan betapa program-program berita dan hiburan Barat mendominasi
media Amerika latin, Afrika dan Asia. Karena itu, mereka melihat adanya
imperialisme baru yang bukanlah dilakukan secara hard power melainkan melalui
soft power yang disebutnya sebagai imperialisme budaya dan media. Munculnya
mazhab Frankfurt dalam studi komunikasi internasional melalui perspekrtif
dependensia dan ekonomi politik misalnya, studi komunikasi internasional telah
mengalami “de-westernisasi”, meminjam istilah Curran dan Park (2000) sehingga
muncul perspektif alternatif pada studi komunikasi internasional dari Eropa dan
Asia.
Konsep
Komunikasi Internasional
Konsep
komunikasi Internasional : who says what in which channel to whom with what
effect.
Kriteria
Komunikasi Internasional
a.
Jenis
isu, pesannya bersifat global.
b.
Komunikator
dan komunikannya berbeda kebangsaan.
c.
Saluran
media yang digunakan bersifat internasional.
d.
Interaksi
dan ruang lingkupnya bersifat lintas negara serta berlangsung di antara
orang-orang yang berbeda kebangsaan dan memiliki jangkauan penyampaian pesan
melintasi batas-batas wilayah suatu negara
Fungsi
Komunikasi internasional
a.
Membangun dan mempererat hubungan
internasional antar negara dengan meningkatkan kerjasama dan menghindari
berbagai konflik, baik konflik satu negara dengan negara lain maupun konflik
pemerintahan dengan masyarakat pada suatu negara.
b.
Membangun dinamisme hubungan antar
negara dan menjalin hubungan baik taraf internasional dengan mencakup kajian
dan fokus di berbagai bidang dan kelompok masyarakat pada masing-masing negara
maupun antar negara. )
c.
Berperan sebagai pendukung
pelaksanaan politik luar negeri yang baik dan berkualitas pada negara-negara
yang terkait dalam melaksanakan kepentingannya satu sama lain.
Ruang Lingkup Komunikasi Internasional
a.
Perspektif Diplomatik.
b.
Perspektif Jurnalistik
c.
Perspektif Propaganda
d.
Perspektif Kulturalistik
e.
Perspektif Bisnis
DAFTAR PUSTAKA
Stevenson,
R.L. (1994). Global Communication in the Twenty-First Century. New York:
Longman.
Herman,
Edward and McChesney, R (1997). The Global Media: The Missionaries of Corporate
Capitalism. Washington, DC: Cassell.
Mowlana,
Hamid (1997). Global Information and World Communication. LondonThousand Oak
and New Delhi: Sage Publication.
Alleyne,
Mark D.(1995). International Power and International Communication. New York:
Marten Press.
Fortner,
Robert S.(1993). International Communication: History, Conflict, and Control of
the Global Metropolis. Belmont, California: Wadswort Publishing Company.
McMillin,
Divya C.(2007). International Media Studies. Main Street, Malden: Blackwell
Publishing.
Pakarkomunikasi.com/komunikasi-internasional.
Diakses pada 14 Oktober 2020 pukul 10.10
Kompasiana.com/komunikasi-internasional.
Diakses pada 14 Oktober 2020 pukul 10.30
Pertemuan 4 (
21-10-2020 )
Pada pertemuan keempat pada mata kuliah
Komunikasi Lintas Budaya, pak Amar tidak bisa masuk kelas karena beliau sedang
sibuk mengikuti seminar proposal mahasiswa semester akhir. Oleh karena itu
beliau menyiapkan video pembelajaran mengenai materi Proses, Teori dan Model
Komunikasi Lintas Budaya yang selanjutnya mahasiswa di minta untuk me review video tersebut dengan acuan topik
bahasan itu dengan analisa/literatur yang dapat di pertanggung jawabkan. Berikut
ini adalah rangkuman versi saya yaitu sebagai
berikut :
Proses
Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi tidak
bisa di pandang sekedar sebagai sebuah kegiatan yang menghubungkan manusia saja
dalam keadaan pasif, tetapi komunikasi harus di pandang sebagai proses yang
menghubungkan manusia melalui sekumpulan tindakan yang terus menerus di
perbaharui. Komunikasi itu dinamik,selalu berlangsung ataupun sering
berubah-ubah.Itulah salah satu karakteristik komunikasi. Titik berat komunikasi
lintas budaya adalah proses komunikasi yang terjadi dalam berbagai macam budaya
yang berbeda. Komunikasi lintas budaya merupakan pintu gerbang agar dapat
memahami komunikasi antar budaya atau intercultural communication.
Teori Komunikasi
Lintas Budaya
a. Face Negotiation
Theory
b. Expectancy
Violations Theory Expectancy Violations Theory
c. Teori Akomodasi
Komunikasi
d. Conversational
constraints theory
e.
Anxiety/Uncertainty Management Theory
Model Komunikasi
a. One way Process Communication, yaitu suatu proses
komunikasi yang berlangsung satu arah, tiadanya timbal balikatau umpan balik
seketika terjadinya komunikasi. Komunikasi ini banyak terjadi dalam komunikasi
massa.
b. Two way Process Communication, dalam proses ini antara
komunikator dan komunikan terjadi saling merumuskan dan saling menerima pesan.
Komunikasi ini sering terjadi dalam komunikasi tatap muka dan komunikasi antar
persona.
Model komunikasi antar budaya menurut para ahli sebagai
berikut :
1. Model Komunikasi
Antarbudaya Menurut Porter & Larry A. Samovar Budaya mempengaruhi prilaku
komunikasi individu, budaya yang berbeda akan menghasilkan pengaruh serta sifat
komunikasi yang berbeda pula. Ketika seorang individu berkomunikasi dengan
individu lain yang memiliki kebudayaan berbeda maka makna pesan yang
disampaikan komunikator akan berubah mengikuti persepsi budaya komunikan.
Misalkan individu dengan budaya A menyampaikan pesan kepada individu dengan
budaya B dan budaya C, dimana budaya A dengan budaya B memilki lebih banyak
kemiripan sedangkan budaya C memiliki perbedaan yang cukup besar dibanding
budaya A. Maka pesan yang diterima B hanya akan sedikit berubah, cukup
mendekati pesan asli yang disampaikan oleh A, karena memiliki persepsi budaya
yang mirip dengan A. Namun pesan yang diterima oleh C akan sangat berbeda,
sebab dipengaruhi budaya yang sangat berbeda pula. Contohnya komunikasi
mengenai eksistensi Tuhan yang dilakukan oleh individu yang beragama Kristen
(budaya A) dengan individu yang beragama Islam (budaya B). Keduanya akan
sepakat bahwa Tuhan itu memang ada. Berbeda jika komunikasi mengenai eksistensi
Tuhan dilakukan oleh individu beragama tersebut (budaya A) dengan seorang
atheis (budaya C). Maka komunikasi tidak akan efektif, sebab terdapat persepsi
yang sangat berbeda mengenai keberadaan Tuhan, budaya A mengakui adanya Tuhan,
namun budaya C tidak mengakui adanya Tuhan.
2. Model Komunikasi Antar Budaya Menurut
William B. Gudykunst dan Young Yun Kim Model komunikasi antar budaya menurut
William B.Gudykunst dan Young Yun Kim merupakan komunikasi yang dilakukan oleh
orang-orang yang berasal dari budaya yang berlainan, atau orang asing. Dalam
model ini, masing-masing individu berperan sebagai pengirim sekaligus juga
penerima pesan. Dengan begitu, pesan yang disampaikan seseorang merupakan umpan
balik untuk lawan bicaranya. Terjadi penyandian serta penyandian balik pesan.
Gudykunst dan Kim menyatakan bahwa penyandian dan penyandian balik pesan
tersebut merupakan sebuah proses interaktif. Proses tersebut dipengaruhi oleh
filter konseptual seperti budaya, sosiobudaya, psikobudaya, dan faktor lingkungan.
Persepsi seseorang atas lingkungannya mempengaruhi cara seseorang dalam
menafsirkan rangsangan serta memprediksi prilaku orang lain.
3. Model Dimensi
Waktu Dalam Komunikasi Antarbudaya Menurut Tom Bruneau Menurut model ini waktu
merupakan variable penting yang mendasari semua situasi komunikasi. Waktu
menentukan hubungan, pola hidup antar manusia, dan pola hidup manusia tersebut
dipengaruhi oleh budayanya. Dimensi waktu meliputi perbedaan konsepsi waktu dan
tempo khusus dari tiap kelompok budaya (perilaku temporal).
DAFTAR PUSTAKA
www.kompasiana.com/model-komunikasi-antar-budaya. diakses pada pukul 9.45
//pakarkomunikasi.com/komunikasi-lintas-budaya.diaksesd
padea pukul 9.55
www.kompasiana.com/putriunifa/proses-komunikasi-antarbudaya. diakses pada
pukul 10.10
Pertemuan 5 (
04-11-2020 )
Pada
pertemuan kelima ini, pak Amar memberikan tugas mereview video materi Hakikat
dan Unsur Komunikasi Lintas Budaya yang telah di posting dengan memberikan studi literatur yang dapat di
pertanggung jawabkan untuk melengkapi
review video tersebut. Kemudian, mendeskripsikan sistematis tentang Hakikat dan Unsur Komunikasi Lintas Budaya. Berikut ini adalah hasil tugas review dan deskripsi versi saya yaitu sebagai berikut :
Hakikat
Komunikasi Antar Budaya
Menurut Devito, ada dua hakikat
komunikasi antar budaya, yaitu:
a.
Enkulturasi, mengacu pada proses dengan mana kultur ditransmisikan
dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagaimana mempelajari kultur, bukan
mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen.
Orangtua, kelompok teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan
merupakan guru-guru utama di bidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka.
b.
Akulturasi, mengacu
pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan
langsung dengan kultur lain. Menurut Kim, penerimaan kultur baru bergantung
pada sejumlah faktor. Imigran yang datang dari kultur yang mirip dengan kultur
tuan rumah akan terakulturasi lebih mudah. Demikian pula, mereka yang lebih
muda dan lebih terdidik lebih cepat terakulturasi daripada mereka yang lebih
tua dan kurang berpendidikan.
Unsur-unsur
Komunikasi Antar Budaya
Unsur-unsur sosio budaya ini merupakan
bagian-bagian dari komunikasi antarbudaya. Bila memadukan unsur-unsur tersebut,
sebagaimana yang dilakukan ketika berkomunikasi, unsur-unsur tersebut bagaikan
komponen-komponen suatu sistem stereo, setiap komponen berhubungan dengan dan
membutuhkan komponen lainnya. Unsur-unsur tersebut membentuk suatu matriks yang
kompleks mengenai unsur-unsur yang sedang berinteraksi yang beroperasi
bersama-sama, yang merupakan suatu fenomena kompleks yang disebut komunikasi
antarbudaya.
Menurut Deddy Mulyana dan Jalaluddin
Rakhmat, unsur-unsur komunikasi antarbudaya terdiri dari 3 unsur, yaitu:
1.
Persepsi, adalah proses internal yang dilakukan untuk memilih, mengevaluasi dan
mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Dengan kata lain,
persepsi adalah cara mengubah energi-energi fisik lingkungan menjadi pengalaman
yang bermakna. Komunikasi antarbudaya akan lebih dapat dipahami sebagai
perbedaan budaya dalam mempersepsi obyek-obyek sosial dan kejadian-kejadian.
Suatu prinsip penting dalam pendapat ini adalah bahwa masalah-masalah kecil
dalam komunikasi sering diperumit oleh perbedaan-perbedaan persepsi ini. Untuk
memahami dunia dan tindakan-tindakan orang lain, harus lebih dahulu memahami
kerangka persepsinya. Tiga unsur sosio budaya mempunyai pengaruh besar dan
langsung atas makna-makna yang dibangun dalam persepsi. Unsur-unsur tersebut
adalah sistem-sistem kepercayaan (belief), nilai (value), sikap (attitude);
pandangan dunia (world view), dan organisasi sosial (social organization).
Ketiga unsur utama ini mempengaruhi persepsi dan makna yang dibangun dalam persepsi,
unsur-unsur tersebut mempengaruhi aspek-aspek makna yang bersifat pribadi dan
subyektif.
a. Sistem-sistem kepercayaan, nilai, sikap
Kepercayaan secara umum dapat dipandang sebagai kemungkinan-kemungkinan
subyektif yang diyakini individu bahwa suatu obyek atau peristiwa memiliki
karakteristik-karakteristik tertentu. Kepercayaan melibatkan hubungan antara
obyek yang dipercayai dan karakteristik-karakteristiknya yang membedakannya.
Nilai-nilai adalah aspek
evaluatif dari sistem-sistem kepercayaan, nilai dan sikap. Dimensi-dimensi
evaluatif ini meliputi kualitas-kualitas seperti kemanfaatan, kebaikan,
estetika, kemampuan memuaskan kebutuhan, dan kesenangan. Meskipun setiap orang
mempunyai suatu tatanan nilai yang unik, terdapat pula nilai-nilai yang cenderung
menyerap budaya. Nilai-nilai budaya biasanya berasal dari isu-isu filosofis
lebih besar yang merupakan bagian dari suatu milleu budaya. Nilai-nilai ini
umumnya normatif dalam arti bahwa nilai-nilai tersebut menjadi rujukan seorang
anggota budaya tentang apa yang baik dan apa yang buruk, yang benar dan yang
salah, yang sejati dan palsu, positif dan negatif.
Nilai-nilai budaya adalah
seperangkat aturan terorganisasikan untuk membuat pilihan-pilihan dan
mengurangi konflik dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai dalam suatu budaya
menampakkan diri dalam perilakuperilaku para anggota budaya yang dituntut oleh
budaya tersebut. Nilai-nilai ini disebut nilai-nilai normatif. Kepercayaan dan
nilai memberikan kontribusi bagi pengembangan dan isi sikap. Diperbolehkan mendefinisikan
sikap sebagai suatu kecenderungan yang diperoleh dengan cara belajar untuk
merespon suatu obyek secara konsisten. Sikap itu dipelajari dalam suatu konteks
budaya. Bagaimanapun lingkungan, lingkungan itu akan turut membentuk sikap,
kesiapan untuk merespon, dan akhirnya merubah perilaku.
b. Pandangan
dunia (world view) Unsur budaya ini, meskipun konsep dan uraiannya abstrak,
merupakan salah satu unsur terpenting dalam aspek-aspek perceptual komunikasi
antarbudaya. Pandangan dunia berkaitan dengan orientasi suatu budaya terhadap
hal-hal seperti Tuhan, kemanusiaan, alam, alam semesta, dan masalah-masalah
filosofis lainnya yang berkenan dengan konsep makhluk. Pandangan dunia
mempengaruhi kepercayaan, nilai, sikap, penggunaan waktu, dan banyak aspek
budaya lainnya.
c. Organisasi sosial (social organization) Cara
bagaimana suatu budaya mengorganisasikan diri dalam lembaga-lembaganya juga
mempengaruhi bagaimana anggota-anggota budaya mempersepsi dunia dan bagaimana
mereka berkomunikasi.
Proses-proses verbal tidak hanya
meliputi bagaimana berbicara dengan orang lain namun juga kegiatan-kegiatan
internal berpikir dan pengembangan makna bagi kata-kata yang digunakan.
Proses-proses ini (bahasa verbal dan pola-pola berpikir) secara vital
berhubungan dengan persepsi dan pemberian serta pernyataan makna.
Bahasa verbal. Secara sederhana bahasa
dapat diartikan sebagai suatu sistem lambang terorganisasikan, disepakati
secara umum dan merupakan hasil belajar, yang digunakan untuk menyajikan
pengalaman-pengalaman dalam suatu komunikasi geografis atau budaya. Bahasa
merupakan alat utama yang digunakan budaya untuk menyalurkan kepercayaan,
nilai, dan norma. Bahasa merupakan alat bagi orang-orang untuk berinteraksi
dengan orang-orang lain dan juga sebagai alat untuk berpikir. Pola-pola
berpikir. Pola-pola berpikir suatu budaya mempengaruhi bagaimana
individu-individu dalam budaya itu berkomunikasi, yang pada gilirannya akan
mempengaruhi bagaimana setiap orang merespon individu-individu dari suatu
budaya lain.
Proses-proses nonverbal merupakan alat
utama untuk pertukaran pikiran dan gagasan, namun proses-proses ini sering
dapat diganti oleh proses-proses nonverbal. Proses-proses nonverbal yang
relevan dengan komunikasi antarbudaya, terdapat tiga aspek pembahasan: perilaku
nonverbal yang berfungsi sebagai bentuk bahasa diam, konsep waktu, dan
penggunaan dan pengaturan ruang.
Perilaku nonverbal. Sebagai suatu
komponen budaya, ekspresi nonverbal mempunyai banyak persamaan dengan bahasa.
Keduanya merupakan sistem penyandian yang dipelajari dan diwariskan sebagai
bagian pengalaman budaya. Karena kebanyakan komunikasi nonverbal berlandaskan
budaya, apa yang dilambangkannya seringkali merupakan hal yang telah budaya
sebarkan kepada anggota-anggotanya. Lambang-lambang nonverbal dan
respons-respons yang ditimbulkan lambang-lambang tersebut merupakan bagian dari
pengalaman budaya, apa yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya.
Setiap lambang memiliki makna karena orang mempunyai pengalaman lalu tentang
lambang tersebut. Budaya mempengaruhi dan mengarahkan pengalamanpengalaman itu,
dan oleh karenanya budaya juga mempengaruhi dan mengarahkan bagaimana mengirim,
menerima dan merespons lambang-lambang nonverbal tersebut.
Konsep waktu suatu budaya merupakan
filsafatnya tentang masa lalu, masa sekarang, masa depan, dan pentingnya waktu
itu. Waktu merupakan komponen budaya yang penting. Terdapat banyak perbedaan
mengenai konsep ini antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya, dan
perbedaan-perbedaan tersebut mempengaruhi komunikasi. Penggunaan ruang. Cara
orang menggunakan ruang sebagai bagian dalam komunikasi antarpersonal disebut
proksemik (proxemics). Proksemik tidak hanya meliputi jarak antara orang-orang
yang terlibat dalam percakapan, tetapi juga orientasi fisik mereka. Orientasi
fisik juga dipengaruhi oleh budaya, dan turut menentukan hubungan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Joseph
A. Devito, Komunikasi Antarmanusia (Jakarta: Professional books, 1997), hlm.
479.
Deddy
Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antar Budaya (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1990), hlm. 27-36.
Pertemuan 6 ( 11-11-2020 )
Pada pertemuan
keenam ini, pak Amar memberikan tugas kepada mahasiswa untuk membuat video
materi “Budaya dan Kontekstualisasi Sub Budaya” dengan konten materi yang di dalam
nya terdapat rujukan yang dapat di pertanggung jawabkan keilmiahannya. Durasi
video nya bebas serta konsep video nya se-kreatif mungkin. Saya telah menyelesaikan
tugas tersebut dan meng-upload video nya di
YouTube
channel saya, kalian bisa klik di sini ( https://youtu.be/RycLAU34UHw
) untuk menonton, happy watching~!
Pertemuan 7 ( 18-11-2020 )
Pada pertemuan ketujuh ini, pak Amar melaksanakan
kelas melalui Google Meeting dengan memberikan
kesempatan kepada mahasiswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam forum, jadi
beliau memanfaatkan pendalaman materi yang telah di tugaskan kepada mahasiswa
minggu lalu di pertemuan ke-6 dengan melakukan diskusi atas materi yang telah disampaikan pada pekan lalu
yaitu tentang Budaya, Subbudaya, dan Kontekstualisasi. Pada diskusi kali ini,
pemateri serta notulen dari mahasiswa sendiri, yakni pemateri pertama, Alfareza
lalu pemateri kedua, Nur Zaenal Abidin kemudian pemateri ketiga, Muhammad Adam
Yusuf. Selanjutnya, untuk notulen ada saya, Citra Mutiara dan notulen kedua,
Rizqi Ilahi. Tugas pak Amar kali ini hanya memantau jalan nya diskusi serta
memberikan penjelasan tambahan yang belum di sampaikan oleh pemateri. Berikut
ini hasil notulen saya, sebagai berikut :
Pemateri
1, Alfareza Zuha
Pengertian budaya, budaya sebagai tradisi atau adat istiadat. Ada juga yang mengatakan budaya sebagai interaksi
sosial antara individu dan individu yang lain. Sub budaya, budaya yang ada di
dalam suatu masyarakat/ pembagian budaya yg di bagi menjadi beberapa yang lebih
kecil. Tumbuh dr adanya kelompok yang ada di dalam masyarakat. Sub budaya bisa
tumbuh dari adanya kelompok-kelompok di dalam suatu masyarakat. Perbedaan
kelompok tersebut berdasarkan karakteristik social, ekonomi dan demografi.
Demografi akan menggambarkan karakteristik suatu penduduk. Di dalam varibel
demografi tersebut, kita bisa mendapatkan sub budaya yang berbeda, yaitu suku
sunda, batak, padang. Cabang budaya suatu masyarakat bisa ditunjukkan oleh
kelas social yang ada dalam masyarakat. Kelas social menunjukkan adanya
kelompok-kelompok yang secara umum mempunyai perbedaan dalam hal pendapatan,
gaya hidup dan kecenderungan konsumsi.
Kelas
Sosial dapat ditentukan dari :
a.
Keluarga,
ini sangat berpengaruh terhadap budaya seseorang, diamana kebanyakan orang akan
terbawa atau mengikuti budaya dari keturunan
b.
Pekerjaan,
mempengaruhi gaya hidup dan merupakan basis penting untuk menyampaikan
prestise, kehormatan dan respect
c.
Pemilikan,
simbol keanggotaan kelas, tidak hanya jumlah pemilikan, tetapi sifat pilihan
yang dibuat. Keputusan pemilikan yang mencerminkan kelas social suatu keluarga
adalah pilihan dimana untuk tinggal.
d.
Orientasi
Nilai. Nilai kepercayaan bersama mengenai bagaimana orang harus berperilaku- menunjukkan
kelas social dimana seseorang termasuk di dalamnya.
Kontekstualisasi
: Usaha menempatkan sesuatu dalam konteksnya, sehingga tidak asing lagi, tetapi
terjalin dan menyatu dengan keseluruhan.
Faktor
yang menimbulkan kontekstualisasi
a.
Dominasi
Budaya
b.
Teologi
tidak relevan, artinya satu pemikiran orang dengan pemikiran lainnya tidak
selaras.
c.
Gerakan
nasionalisasi
Pemateri
2, Nur Zaenal Abidin
Definisi budaya
sendiri dapat diartikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan budi, akal
manusia, kebiasaan, tingkah laku, dan adat istiadat. Budaya tumbuh dan
berkembang di lingkungan masyarakat daerah, serta terus diwariskan secara turun
temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Fungsi-fungsi
budaya
a.
Menjadi
representasi suatu daerah atau wilayah tertentu.
- Sebagai pedoman hubungan manusia atau kelompok.
- Memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.
- Sebagai media berkomunikasi dengan individu atau
kelompok lain.
- Mendorong terjadinya perubahan masyarakat.
- Menjadi identitas bangsa secara nasional.
Unsur-
unsur budaya
a.
Bahasa, media bagi seseorang untuk dapat berkomunikasi
secara lisan atau verbal.
- Sistem pengetahuan, pengetahuan tentang kondisi alam
sekelilingnya dan sifat-sifat peralatan yang digunakannya.
- Sistem teknologi dan
peralatan, cara seorang dalam mengelola dan mengumpulkan
bahan-bahan mentah hingga menjadi bahan pakai.
- Kesenian, hasil karya manusia yang mengandung sisi
estetika dan keindahan.
- Sistem mata pencaharian
dan ekonomi, yakni segala usaha
atau upaya manusia untuk medapatkan barang atau jasa yang dibutuhkan.
- Religi, sistem yang terpadu antara keyakinan dan
praktek keagamaan yang berhubungan dengan hal-hal yang suci.
- Sistem kekerabatan dan
organisasi kemasyarakatan,
sekelompok masyarakat yang anggotanya memiliki kesamaan satu sama lain dalam
suatu sistem kekerabatan tertentu.
Sub budaya
adalah pola pola kultural yang menonjol, dan merupakan bagian atau segmen dari
populasi masyarakat yang lebih luas dan lebih kompleks (Ristiyanti dalam
macionis,2004)
Makna
dari teknologi kontekstualisasi yakni teologi kontekstualisasi dengan
sungguh-sungguh sangat memperhatikan konteks sejarah dan budaya dimana seorang
hidup dan berkarya. Teologi kontekstualisasi harus mampu menafsir dan
membangun.
Pemateri
3, Muhammad Adam
Budaya adalah suatu cara hidup yang
berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan
dari generasi ke generasi. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan
masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian bahwa
kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan
meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga
dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan
perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai
makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, dan benda-benda yang bersifat nyata,
misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial,
religi, seni, dan lain-lain, yang semuanya ditujukan untuk membantu manusia
dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Subbudaya adalah sekelompok orang yang
memiliki perilaku dan kepercayaan yang berbeda dengan kebudayaan induk mereka,
budaya induk adalah kebudayaan yang what majority belief. Kontekstualisasi
adalah usaha menempatkan sesuatu dalam konteksnya, sehingga tidak asing lagi,
tetapi terjalin dan menyatu dengan keseluruhan seperti benang dalam tekstil.
Dalam hal ini tidak hanya tradisi kebudayaan yang menentukan tetapi situasi dan
kondisi sosial pun turut berbicara. Hal ini erat kaitanya dengan berkomunikasi
antar sesama. Apalagi dimasa pandemic seperti rentan terjadi perbedaan ketika
berkomunikasi karna kita tidak melihat lawan bicara kita secara langsung.
Semua
pemateri telah menyelesaikan pembahasan tentang topik budaya, sub budaya, dan
kontektualisasi dan ditutup dengan pembahasan lebih lanjut tentang apa yang
telah disampaikan oleh pemateri. Dilanjut dengan sesi pertanyaan, Ivona
bertanya kepada pemateri pertama Alfareza, pada faktor subbudaya teologhy yang
tidak relevan maksud dari itu bagaimana dan contohnya itu seperti apa?.
Alfareza menjawab maksudya itu keyakinan jadi dari pemikiran orang yang tidak
sejalan, tapi tetap sejalin. Dalam kelompok ada suatu anggota yg berpikiran A
tapi itu berlawanan dengan konsep dari suatu kelompok tapi dengan adanya
kontekstualisasi ini untuk menyatukan konsep dari anggota A dengan prinsip
anggota. Kemudian Rio bertanya ditujukan ke 3 materi siapa saja bisa menjawab,
mengenai Indonesia masyarakat yang majemuk bagaimana kita menanggapinya dengan
baik jika kita berada ditengah tengah masyarakat yang majemuk. Adam jawab
masyarakat majemuk kemungkinan masalah yang rentan terjadi itu merasa salah
padahal kita bisa mengatasi suatu permasalahan itu.
Pertanyaan
terakhir diajukan oleh Angga, Kenapa sih banyak dikalangan mahasiswa, misal
dari Papua kan ia beda budaya sama kita. Nah itu kenapa mahasiswa dari dari
Jawa yang berbeda budaya itu tidak bisa menerima misal budaya nya orang papua
itu tadi? Kemudian saya menjawab ( Citra ), membahas di komunikasi antar budaya
makanya dengan adanya pelajaran ini benefitnya itu kita bisa mengatasi adanya
perbedaan, dan mengatasi hambatan dalam berkomunikasi antar budaya. Dan
ditambahkan oleh Adam, menurutnya Adam “mayoritas diatas minoritas” dan itu
berlaku dalam semua konteks seperti agama misalnya.
Pertemuan 8 ( 25-11-2020 )
Pada
pertemuan kedelapan ini saya melaksanakan UTS. Setelah selama 7 pertemuan
perkuliahan kemarin telah mendalami berbagai topik
untuk mengantarkan pemahaman tentang Komunikasi Lintas Budaya. Pada UTS kali
ini, pak Amar memberikan pilihan tugas dimana mahasiswa bisa memilih salah satu
dari alternatif tugas yang lebih di sukai dengan batas waktu pengumpulan 3
minggu, yakni :
Pertama, menyusun buku kecil dengan membuat desain
sampul, judul buku yang tepat terkait topik-topik materi yang telah kita
pelajari dalam setengah semester ini. Adapun kelengkapan lain untuk penulisan
buku kecil, disesuaikan dan di susun se-kreatif mungkin seperti layaknya
penulis.
Kedua, me-review satu
buku yang di dalamnya ada satu atau lebih dari topik yang telah di kaji selama
setengah semester ini.
Ketiga, mengkliping video tentang topik yang telah di kaji
dalam setengah semester.
Dari
ketiga pilihan tersebut, saya memilih opsi kedua yaitu mereview buku. Judul buku yang saya review adalah “Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya” karya Dr. Alo
Liliweri, M.S. Buat yang penasaran hasil review
saya bisa kalian liat di sini (https://drive.google.com/open?id=1ooEgbV1Pn2Yj5BWZ-CQZPYedSVPHnZgk&authuser=0). Enjoy~!
Pertemuan 9 (
02-12-2020 )
Pada pertemuan kesembilan ini, pak Amar
membagikan video yang terkait dengan materi Komunikasi Budaya Tinggi dan Rendah
melalui Google Classroom. Selanjutnya, mahasiswa di minta untuk memahami video
tersebut selama 1 jam. Setelah itu, pak
Amar melakukan kajian bersama dengan mahasiswa melalui Google Meeting. Berikut
ini adalah resume materi “Komunikasi Budaya Tinggi dan Rendah” versi saya,
sebagai berikut :
Komunikasi konteks tinggi
Komunikasi konteks tinggi adalah komunikasi yang bersifat
implisit dan ambigu, yang menuntut penerima pesan agar menafsirkannya sendiri.
Komunikasi konteks tinggi bersifat tidak langsung, tidak apa adanya. Komunikasi
konteks – tinggi mengandung pesan relatif banyak terdapat dalam konteks fisik
(physical context), sehingga makna pesan hanya dapat dipahami dalam konteks pesan
tersebut.
Dalam komunikasi konteks tinggi, makna terinternalisasikan
pada orang yang bersangkutan, dan pesan lebih ditekankan pada aspek non –
verbal (internalized in the person while very little is in the coded). Dalam
komunikasi yang demikian, mengetahui suatu kata atau huruf hanya memberi
sedikit makna bila tidak diketahui konteks penggunaannya.
Ciri-ciri komunikasi konteks tinggi
a. Typically short ( yang singkat )
b. Pithy (penuh Arti )
c. Poetic ( Puitis ).
Komunikasi konteks tinggi sangat mungkin dipahami jika
digunakan di dalam kelompoknya sendiri (in group), tidak untuk kelompok luar
(outsiders)
Berikut ini ciri-ciri budaya konteks tinggi :
a. Pengambilan keputusan (decision making) terhadap suatu hal
cenderung lamban dan di perlambat, bukan maksud untuk mengulur-ngulur waktu dan
juga bukan karena kurang cerdas, namun karena cenderung menjaga perasaan orang
lain
b. terkadang pemecahan masalah (problem solving) tidak mengacu
pada subtansi awal, sehingga cenderung kemana-mana
c. agak sedikit lamban jika membuat keputusan dalam suatu
negosiasi, namun jika orang yang diajak negoisasi adalh yang sangat kredibel
dan sangat dipercaya maka, proses negosiasi akan berlangsung cepat
d. Masalah pribadi biasanya tidak terpisah dari masalah
pekerjaan
e. Adanya jarak antara atasan dengan bawahan
Komunikasi konteks-tinggi bertipikal sedikit berbicara,
implisit, puitis. Orang berbudaya konteks-tinggi menekankan isyarat
kontekstual, sehingga ekspresi wajah, tensi, gerakan, kecepatan interaksi dan
lokasi interaksi lebih bermakna. Orang dalam berbudaya konteks-tinggi
mengharapkan orang lain memahami suasana hati yang tak terucapkan, isyarat
halus dan isyarat lingkungan.
Dalam interaksi konteks-tinggi pesan dalam komunikasi akan
mudah dimengerti oleh kelompoknya (orang yang berkonteks-tinggi).Sulitnya untuk
mengatakan tidak, bagi orang Indonesia bukan sekedar basa-basi, situasi
demikian benar-benar ada apa adanya (reality) di lingkungan kita sehari-hari,
yang oleh Edward T. Hall dikatakan ‘places cultures along a continuum’ (bersemi
ada dalam budayanya). Orang Indonesia lebih memilih diam daripada mengucapkan
kata tidak secara langsung.
Komunikasi konteks rendah
Komunikasi konteks rendah adalah komunikasi yang bersifat
langsung, apa adanya, lugas tanpa berbelit-belit ngalor-ngidul. Karakter
komunikasi semacam ini biasa terjadi di Barat, mereka sukanya to the point
tidak suka basa-basi. Pada
umumnya, komunikasi konteks-rendah ditujukan pada pola komunikasi mode lisan langsung
(direct verbal mode)- pembicaraan lurus, kesiapan non verbal (nonverbal
immediacy) dan mengirim berorientasi nilai (sender-oriented values). Pengirim
bersikap tanggung jawab untuk menyampaikan secara jelas. Dalam komunikasi
konteks rendah, pembicara diharapkan untuk lebih bertanggung jawab untuk
membangun sebuah kejelasan, pesan yang meyakinkan sehingga pendengar dapat
membaca sandi (decode) dengan mudah.
Ciri-ciri komunikasi konteks rendah
a. must be longer
b. more elaborated
c. explicit
(ciri komunikasinya bisa menggambarkan atau bisa juga
menjelaskan hingga cukup tampak rinci dan panjang, dan saat itu juga
disampaikan secara eksplisit).
Berikut ini ciri-ciri budaya konteks rendah :
a. Decision making cepat, fokus, dan effisien, bahkan cenderung
tidak memikirkan perasaan orang lain, karena penganut budaya ini terbiasa
berkata apa adanya
b. Problem solving juga fokus kepada subtansi dan focuss serta
tidak keluar kemana-mana
c. Negosiasi cepat aslakan ada bukti dan keterangan tertulis
yang kuat
d. Professional dan tidak mencampurkan masalah pribadi dengan
pekerjaan
e. Atasan dengan bawahan terbuka dan tidak ada sapaan
kehormatan seperti Mr/Mrs kepada atasan.
Budaya konteks-rendah cenderung menganut “waktu monokronik”,
waktu monokronik adalah waktu yang berjalan secara linear. Waktu linear
dianggap berjalan dari masa lalu ke masa depan, seperti garis lurus, dan tidak
pernah kembali. Waktu dianggap objektif, dapat dihitung, dihemat, dihabiskan,
dan dibuang. Maka waktu menjadi berharga, sehingga muncullah pribahasa Time is
money. Efisiensi waktu adalah ciri khas dari budaya konteks-rendah,
one-thing-at-one-time, being on time,getting the job done by a deadline.
DAFTAR PUSTAKA
Angela Gamsriegler. 2005. High-Context And Low-Context
Communication Styles. Ibid. halaman 3.
Hall, E. T. (1976). Beyond culture. New York: Dubleday Dell
Publishing.
Mulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Efektif Suatu Pendekatan
Lintas Budaya : Bandung, Remaja Rosdakarya.
Pertemuan 10 (
16-12-2020 )
Pada pertemuan
kesepuluh ini, pak Amar membagikan video mengenai materi “Teori Interaksi Simbolik, Proses,
Makna & Simbol dalam Interaksi” untuk bisa di pahami serta di pelajari oleh
mahasiswa. Selanjutnya, mahasiswa di minta untuk membuat materi/artikel/PPT
dengan rujukan literatur yang dapat di pertanggung jawabkan kualitas
keilmiahannya. Dari beberapa pilihan tersebut, saya memutuskan untuk memilih
membuat PPT tentang “Teori
Interaksi Simbolik, Proses, Makna & Simbol dalam Interaksi”. Hasil PPT
tersebut bisa kalian liat di sini ( http://bit.ly/PPTcims ) Enjoy~!
Pertemuan 11 (
30-12-2020 )
Pada pertemuan
kesebelas ini, pak Amar melaksanakan kelas melalui Google Meeting dengan memberikan
kesempatan kepada mahasiswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam forum, jadi
beliau memanfaatkan pendalaman materi yang telah di tugaskan kepada mahasiswa
minggu lalu di pertemuan ke-10 dengan melakukan diskusi atas materi yang telah disampaikan pada pekan lalu yaitu
“Teori Interaksi
Simbolik, Proses, Makna & Simbol dalam Interaksi” Pada diskusi kali ini, host,
pemateri serta notulen dari mahasiswa sendiri. yakni, nara sumber : Amila Zunita Putri, R januaro
Wardoyo, Mia Dwi Amalia; Host: Najma; Notulen: Nur Zainal Abidin & Ivona
Islamiyah. Berikut ini hasil resume saya dari yang di jelaskan oleh pemateri,
sebagai berikut :
Teori Interaksi Simbolik
George Herbert Mead adalah tokoh
yang tidak bisa lepaskan dari teori Interaksi Simbolik. Dia adalah pengajar
filsafat—--dan bukannya sosiologi— di Universitas Chicago dari 1863-1931 5 .
Akan tetapi, banyak mahasiswa sosiologi yang mengambil kuliahnya. Para
mahasiswa itulah yang kemudian membukukan “tradisi oral”-nya Mead me-ngenai
interaksi simbolik menjadi tertulis, sehingga catatan kuliah mereka dari Mead
digunakan sebagai basis karya yang di kemudian hari terkenal dengan, Mind, Self
and Society: From the Standingpoint of a Social Behav-iorist. Ada dua akar
intelektual paling signifikan dari karya Mead pada khususnya, dan mengenai
Interaksi Simbolik pada umumnya, yakni filsafat pragmatisme dan behaviorisme
psikologis. Sedangkan masukan penting yang lainnya lagi dari teori ini berasal
dari George Simmel 6 , khususnya gagasan-gagasannya mengenai konsep interaksi.
Tokoh ilmuwan yang memiliki andil utama
sebagai perintis Interaksi Simbolik adalah G. Herbert Mead. Gagasannya mengenai
interaksi simbolik berkembang dan mengalir dalam bukunya Mind, Self, and
Society (1934), yang menjadi rujukan teori Interaksi Simbolik. Menurutnya, inti
dari teori interaksi simbolik adalah tentang “diri” (self), menganggap bahwa
konsepsi-diri adalah suatu proses yang berasal dari interaksi sosial individu
dengan orang lain. Bagi Mead, individu adalah makhluk yang bersifat sensitif,
aktif, kreatif, dan inovatif. Keberadaan sosialnya sangat menentukan bentuk
lingkungan sosialnya dan dirinya sendiri secara efektif (Soeprapto, 2002). Lebih
jauh, Mead menjelaskan bahwa konsep “diri” (self) dapat bersifat sebagai objek
maupun subjek sekaligus. Objek yang dimaksud berlaku pada dirinya sendiri
sebagai karakter dasar dari makhluk lain, sehingga mampu mencapai kesadaran
diri (self conciousness), dan dasar mengambil sikap untuk dirinya, juga untuk
situasi sosial.
Argumentasi Mead dijabarkan dengan
konsep “pengambilan peran orang lain” (taking the role of the other,) —sebagai
penjelasan “diri sosial” (social self) dari William James, dan pengembangan
teori “diri” dari Cooley—. Menurutnya, “diri” akan menjadi objek terlebih
dahulu sebelum ia berada pada posisi subjek. Dalam hal ini, “diri akan
mengalami proses internalisasi atau interpretasi subjek, atas realitas struktur
yang luas. Dia merupakan produk dialektis dari “I” impulsive dari “diri”, yaitu
aku, sebagai subjek dan “Me” sisi sosial dari manusia yaitu “daku” sebagai
objek, Perkembangan “diri” (self), sejalan dengan sosialisasi individu dalam
masyarakat yakni merujuk kepada kapasitas dan pengalaman manusia sebagai objek
bagi diri sendiri. Ringkasnya, argumen Mead, bahwa “diri” muncul dalam proses
interaksi karena manusia baru menyadari dirinya sendiri dalam interaksi sosial.
Makna dan Simbol
dalam Proses Interaksi Sosial
Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit
Dijunjung. Pepatah tersebut merupakan penguatan tentang konsep diri manusia
yang menunjukkan betapa pentingnya proses interaksi bagi manusia dimana saja ia
berada. Seakan-akan, manusia itu perlu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Apabila manusia tidak menyesuaikan diri dengan lingkungannya, maka akan
menggagalkan proses interaksinya sendiri. Pada hakikatnya manusia adalah
makhluk yang berinteraksi. Bahkan interaksi itu tidak saja eksklusif antar
manusia, tetapi juga inklusif dengan seluruh mikrokosmos.
Dalam kajian teori interaksionis
simbolik, George Hebert Mead menekankan pada bahasa yang merupakan sistem
simbol dan kata-kata merupakan simbol karena digunakan untuk memaknai berbagai
hal. Dengan kata lain, simbol atau teks merupakan representasi dari pesan yang
dikomunikasikan kepada publik. Menurut Mead, makna tidak tumbuh dari proses
mental soliter namun merupaka hasil dari interaksi sosial atau signifikansi
kausal interaksi sosial. Individu secara mental tidak hanya menciptakan makna dan
simbol semata, melainkan juga ada proses pembelajaran atas makna dan simbol
tersebut selama berlangsungnya interaksi sosial. Bahkan ditegaskan oleh Charon
bahwa simbol adalah objek sosial yang digunakan untuk merepresentasikan apa-apa
yang disepakati bisa direpresentasikan oleh simbol tersebut.
Interaksi simbolis merupakan salah satu
pendekatan yang bisa dilakukan dengan cultural studies. Menurut Norman Denzin
dalam bukunya Symbolic Interactionism and Cultural Studies menekankan bahwa
semestinya kajian terhadap interaksi simbolis memainkan peranan penting dalam
cultural studies yang memusatkan perhatian pada tiga masalah yang terkait satu
dengan lainnya, yakni produksi makna kultural, analisis tekstual makna-makna
ini dan studi kebudayaan yang dijalani dan pengalaman yang dijalani. Namun,
dalam tataran praktis Denzin melihat adanya kecenderungan dari interaksionisme
simbolik untuk mengabaikan gagasan yang menghubungkan “simbol” dan “interaksi”.
Demikian review pertemuan perkuliahan mulai
dari pertama hingga pada pertemuan yang kesebelas selama semester 3 ini. Semoga
bermanfaat dan dapat di terapkan mahasiswa di kehidupan sehari-hari. Terima
kasih juga kepada Bapak Amar selaku Dosen Mata Kuliah Komunikasi Lintas Budaya
yang telah mengajar dengan sabar serta tulus kepada saya dan teman-teman saya
di kelas E1 Ilmu Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya. Sehat-sehat ya pak!
Sampai jumpa di semester depan (jika bertemu kembali hehe).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar