Selasa, 19 Januari 2021

Review Pertemuan 1-11 Mata Kuliah Komunikasi Lintas Budaya

 Citra Mutiara Devi ( E1/ B05219012 )


Pertemuan 1 ( 30-09-2020 )

Pada pertemuan pertama pada mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya, pak Amar selaku dosen memperkenalkan diri lalu beliau menjelaskan mengenai kontrak belajar. Kemudian, beliau memposting video pembelajaran materi Definisi, Ruang Lingkup dan Dimensi Komunikasi Lintas Budaya yang selanjutnya, mahasiswa di minta untuk menyimak video lalu di beri waktu 30 menit untuk mengomentari terkait video tersebut di kolom komentar Google Classroom. Berikut ini rangkuman versi saya dari penjelasan pak Amar serta komentar saya dari video pembelajaran yang telah di posting oleh pak Amar, yaitu sebagai berikut :

Di video pertama : sebagai makhluk sosial kita tdk terlepas dengan yang namanya komunikasi, apalagi kita sebagai orang Indonesia tidak lepas akan perbedaan suku,budaya,ras,agama. Dalam video pertama, di referensikan seseorang yang berasal dari Jakarta yg ingin berinteraksi dengan orang yang berasal dari Jawa, namun komunikasi tersebut tidak berjalan dengan lancar karena hambatan cara pandang negatif terhadap orang asing, dan mengenalisir kelompok/budaya. untuk itu, kita harus memiliki sikap MINDFULNESS (cara pandang baru untuk memahami perbedaan budaya) dan mempelajari budaya orang lain sebanyak mungkin untuk menghindari culture shock. agar komunikasi lintas budaya kita efektif, serta perlu menyadari akan perbedaan, dan jangan mengenalisir suatu kelompok/budaya karena makna pesan terdapat pada orang nya bukan pada gerak-gerik.

Di video Kedua : membahas soal komunikasi bisnis lintas budaya, cara mempromosikan bisnis antar budaya dengan baik. Dua vidio tadi hanya sekedar sample ilustrasi pentingnya pemahaman komunikasi lintas budaya satu dalam komunikasi keseharian yang kedua komunikasi dalam bisnis. sudah barang tentu masih banyak contoh fenomena kegagalan & kesuksesan komunikasi baik iitu interpersonal maupun komunikasi lintas budaya. Eksistensi manusia dimuka bumi juga beragam dan salah satu diantara penentu sukses & tidaknya eksistensial manusia dalam kehidupan juga dipengaruhi oleh faktor pemahaman & kemampuan komunikasinya dan dalam proses komunikasi kita dihadapkan dengan fenomena komunikasi interpersonal, intergroup, ataupun interpersonal-group. jadi dalam komunikasi ada hal penting yang perlu dikaji oleh mahasiswa ilmu komunikasi & ini penting untuk pemahaman individu maupun kesiapan teori dalam rangka mengekslorasi pendalaman teori-teori komunikasi salah satunya teori-teori komunikasi lintas budaya. yang kan kita kaji dalam satu semester ke depan.

Pada video ketiga : membahas mengenai teori komunikasi lintas budaya, yakni

1. Teori negosiasi wajah : Bagaimana orang2 dari budaya berbeda dapat menjalin hubungan, dan juga menyelesaikan masalah berdasarkan muka di setiap budaya. Wajah juga dapat mencerminkan gambaran diri terhadap orang lain.

 2. Teori Pengurangan ketidakpastian : Ketika bertemu dengan orang yang baru dikenalnya, seseorang cenderung tidak memiliki definisi yang akurat terhadap orang tersebut, sehingga menimbulkan keadaan yang tidak mengenakkan. untuk mengatasi hal ini strategi nya ialah dengan pencarian informasi melalui komunikasi.

3. Teori bahasa dalam budaya : Bahasa merupakan alat verba untuk komunikasi, ada yang mengatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi kebudayaan, sehingga segala hal yang ada dalam kebudayaan akan tercermin di dalam bahasa. Sebaliknya, ada juga yang mengatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi kebudayaan dan cara berpikir manusia atau masyarakat penuturnya.

4. Teori Pelanggaran : menggambarkan bahwa seseorang memiliki harapan kepada orang lain yang dapag memberikan kenyamanan.

5. Teori Speech code : mengenai kata-kata yang khas dari sebuah kebudayaan dan juga menekankan pada aspek perbedaan antara suatu budaya dengan kebudayaan lainnnya atau kecirikhasan. tujuan teori, untuk memahami perbedaan budaya dan bagaimana proses menyesuaikan diri pada suatu kebudayaan. jadi, dalam proses komunikasi, kita harus menghargai lawan bicara kita, agar pesan yang disampaikan dpt diterima dengan baik.

Tak dipungkiri bahwa kemjuan teknologi komunikasi & transportasi dewasa ini telah memungkinkan manusia di berbagai penjuru dunia saling mengenal dan berhubungan erat tidak sekedar tetangga antar desa atau antar pulau. Dalam beberapa menit saja hubungan ini bisa dilakukan. Banyak fenomena terjadi seperti tergambar dalam vidio yang sdh saya tayangkan, jika kita tidak mengenali tentang pemahaman Komunikasi Interpersonal maupun lintas budaya akan cenderung jadi masalah, sementara jika kita memahami karakter & teori2 komunikasi maka kita akan survive dalam mengahadapi universalisasi & teknonolgi komunikasi yang berkembang khususnya Komunikasi Lintas Budaya.

            Penjelasan yang di berikan pak Amar ini sangat mudah di pahami, terutama saat beliau memberikan contoh nyata di kehidupan sehari-hari. Perkuliahan pada pertemuan pertama ini berakhir tepat waktu. Semoga pada pertemuan ini bermanfaat, lalu pak Amar mengakhiri dengan membaca do’a.

 

 

Pertemuan 2 ( 07-10-2020 )

            Pada pertemuan kedua ini, pak Amar tidak bisa masuk untuk mengisi kelas karena beliau sedang ada workshop penyusunan LED FDK. Jadi beliau memberikan tugas deskripsi singkat mengenai Definisi, Ruang Lingkup dan Dimensi Komunikasi Lintas Budaya dengan menyertakan referensi terkait dengan materi tersebut. Berikut ini hasil dari tugas saya sebagai berikut :

1.      Definisi Komunikasi Lintas Budaya

Sebelum kita mengetahui apa definisi dari Komunikasi Lintas Budaya, kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang hubungan antara komunikasi dengan budaya itu sendiri. Seperti yang kita ketahui bersama, komunikasi akan diawali dengan asumsi bahwa komunikasi berhubungan dengan kebutuhan manusia dan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia-manusia lainnya. Kebutuhan berhubungan sosial ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia-manusia yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi. Adapun budaya itu sendiri berkenaan dengan cara hidup manusia. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktek komunikasi, tindakan-tindakan sosial, kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik dan teknologi semuanya didasarkan pada pola-pola budaya yang ada di masyarakat. Budaya dan komunikasi tak dapat dipisahkan satu sama lain, karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siap, tentang apa dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Budaya merupakan landasan komunikasi sehingga bila budaya beraneka ragam maka beraneka ragam pula praktek-praktek komunikasi yang berkembang. Para pakar komunikasi telah memberikan gambaran yang beragam tentang definisi komunikasi. John R. Wenburg dan William W.Wilmot juga Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken menjelaskan setidaknya ada tiga kerangka pemahaman mengenai komunikasi, yakni komunikasi sebagai tindakan satu arah, komunikasi sebagai interaksi, dan komunikasi sebagai transaksi. (Prof. Deddy Mulyana, MA, Ph.D, Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar, Rosda, Bandung, 2012 : 67 ). “Who says what in which channel to whom with what effect?”, definisi komunikasi menurut Harold D. Lasswell2 diatas memberikan gambaran tentang komunikasi sebagai suatu proses transmisi pesan. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan yang bersifat satu arah dari komunikator (penyampai pesan) kepada komunikan (penerima pesan) dengan menggunakan media tertentu sehingga memunculkan efek. (Harold D.Lasswell (1902-1978) adalah salah satu four founding fathers atau pelopor dari perkembangan ilmu komunikasi.) Menurut P. Clint Rogers (2009), Komunikasi lintas budaya adalah suatu bidang studi yang meneliti beberapa cara yang dilakukan oleh manusia. Cara – cara tersebut datang dari beberapa manusia yang memiliki latar belakang budaya berbeda untuk berkomunikasi dengan manusia yang lainnya (Cross-Cultural Issues in Online Learning dalam IGI Global Disseminator of Knowledge). Menurut Joseph A Devito, dalam bukunya “Communicology an introduction to the study of communication”,Harper & Row, New York, 1976 mengatakan bahwa komunikasi lintas budaya berbeda dengan komunikasi antar budaya. Jika komunikasi lintas budaya lebih menekankan pada perbandingan pola-pola komunikasi antarpribadi diantara peserta komunikasi yang berbeda kebudayaan, maka studi komunikasi antarbudaya lebih mendekati objek melalui pendekatan kritik budaya.

2.      Dimensi Komunikasi Lintas Budaya

Pemahaman Dimensi Komunikasi Lintas Budaya yang dirumuskan oleh Geert Hofstede (1984) menyatakan bahwa budaya adalah pemograman kolektif dari pikiran yang membedakan anggota satu kelompok atau kategori orang dari yang lain. Hofstede dipandang berkonstribusi besar terhadap manajemen lintas budaya melalui berbagai penelitian tentang lintas budaya khususnya dampak perbedaan budaya nasional terhadap manajemen. Melalui penelitiannya tersebut, Hofstede mengidentifikasi perbedaan mendasar antara budaya nasional dan menemukan empat dimensi budaya yang masing-masing merepresentasikan sebuah perbedaan yang berdasarkan garis lurus. Adapun dimensi budaya menurut Hofstede adalah sebagai berikut :

a.       Power distance. Jarak kekuasaan adalah sejauh mana anggota dengan kekuasaan terbatas dari suatu institusi dan organisasi dalam sebuah negara berharap dan menerima bahwa kekuasaan tersebut didistribusikan secara tidak merata.

b.      Uncertainty avoidance. Penghindaran ketidakpastian merujuk pada sejauh mana anggota suatu budaya merasa terancam oleh situasi yang tidak pasti dan tidak diketahui.

c.       Individualism – collectivism. Individualisme adalah sebuah masyarakat dimana hubungan antara individu bersifat longgar dalam artian setiap orang diharapkan untuk menjaga dirinya sendiri dan keluarga dekatnya saja. Kolektivisme adalah sebuah masyarakat dimana orang sejak lahir dan seterusnya diintegrasikan ke dalam keadaan yang kuat, kohesif dalam kelompok, yang sepanjang masa hidup manusia ters melindungi mereka dengan imbalan kesetiaan yang tidak diragukan lagi.

d.      Masculinity – femininity. Maskulinitas merujuk pada sebuah masyarakat dimana peran sosial gender sangatlah jelas berbeda, misalnya pria seharusnya bersikap asertif, kuat, dan fokus pada kesuksesan materi. Sedangkan wanita seharusnya bersifat sederhana, lembut, dan peduli dengan kualitas hidup. Femininitas merujuk pada sebuah masyarakat dimana peran sosial gender saling tumpang tindih antara pria dan wanita.

e.       Long-term – short term orientation. Dimensi budaya kelima yaitu orientasi jangka panjang dan orientasi jangka pendek merupakan dimensi tambahan yang dikemukakan oleh GLOBE. Yang dimaksud dengan orientasi jangka panjang adalah pembinaan kebajikan yang berorientasi pada penghargaan masa depan khususnya ketekunan dan hemat. Sedangkan, yang dimaksud dengan orientasi jangka pendek merujuk pada pembinaan kebajikan terkait dengan masa lalu dan masa kini khususnya menghormati tradisi, pelestarian budaya, dan memenuhi kewajiban sosial.

Berbagai dimensi budaya tersebut umumnya digunakan untuk mengelola multikulturalisme. Berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli kerapkali mengaitkan berbagai dimensi budaya dengan negosiasi guna meningkatkan kemampuan manajer untuk menjelaskan dan memprediksi dampak budaya.

3.      Ruang Lingkup Komunikasi Lintas Budaya

Penelitian komunikasi lintas budaya memfokuskan perhatian pada bagaimana budaya-budaya yang berbeda berinteraksi dengan proses komunikasi; bagaimana komponen-komponen komunikasi berinteraksi dengan komponen-komponen budaya. Komponen-komponen Budaya Disiplin yang menelaah komponen-komponen budaya adalah antropologi budaya, sehingga penelitian komunikasi lintas budaya harus mengacu pada disiplin tersebut dalam mengidentifikasi dan mendeskripsikan komponen budaya. Asante mengemukakan enam komponen budaya yang penting: 1. Komponen Pandangan Dunia. Setiap budaya punya caranya yang khas dalam memandang dunia-dalam memahami, menafsirkan dan menilai dunia. Ketika komunikasi lintas budaya terjadi, pandangan dunia akan mempengaruhi proses penyandian dan pengalihasandian. Pandangan dunia juga dapat dipakai untuk memdiagnosis “noise” yang terjadi dan menunjukkan “terapi”-nya. 2. Komponen Kepercayaan (beliefs). Salah satu unsur kepercayaan yang sangat penting dalam komunikasi lintas kultural adalah citra (image) kita dengan komunikasi dari budaya lain. Citra mempengaruhi perilaku kita dalam hubungannya dengan orang yang citranya kita miliki. Citra menentukan desain pesan komunikasi kita. 3. Komponen nilai. Sistem nilai masyarakat dalam budaya tertentu mempengaruhi cara berpikir anggota-anggotanya. Spranger mengemukakan kategori nilai yang terkenal antara lain: nilai ilmiah, nilai religius, nilai ekonomis, nilai estetis, nilai politis dan nilai sosial. 4. Nilai sejarah Lewat sejarah yang mereka ketahui, anggota masyarakat saling bertukar pesan dalam komunikasi lintas budaya. 5. Komponen Mitologi. Mitologi suatu kelompok budaya memberikan pada kelompok pemahaman hubungan-hubungan, yakni, hubungan orang dengan orang, orang dengan kelompok luar, dan orang dengan kekuatan alami. 6. Komponen otoritas status. Setiap budaya mempunyai caranya sendiri dalam mendiskusikan otoritas status. Bersamaan dengan otoritas status ada permainan peran yang ditentukan secara normatif.

 

DAFTAR PUSTAKA

Mulyana, Deddy, and Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi antarbudaya. Remaja Rosdakarya, 1990.

http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/05/komunikasi-antar-budaya-definisi-dan.html . diakses pada 7 Oktober pukul 9.10

https://pakarkomunikasi.com/manajemen-komunikasi-lintas-budaya. diakses pada 7 Oktober 2020 pukul 10.05

 

 

Pertemuan 3 ( 14-10-2020 )

Pada pertemuan ketiga pada mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya, pak Amar menjelaskan materi melalui Google Meeting. Setelah itu, beliau memposting video terkait dengan materi di Google Classroom. Kemudian mahasiswa di minta untuk menyimak video dengan di beri waktu 30 menit lalu mengomentari video tersebut. Berikut ini rangkuman versi saya dari penjelasan pak Amar serta komentar mengenai materi Komunikasi Internasional yaitu sebagai berikut :

Komunikasi Internasional

            Komunikasi internasional, kata Stevenson (1994:543): “It’s hard to define, but you know it when you see it”. Selain sulit didefinisikan, para ahli komunikasi pun memberi istilah yang saling berbeda tentang komunikasi internasional ini. Ada yang menyebutnya dengan istilah “global communication” (Maulana), “world communication” (Hamelink, 1994), atau “transnational communication” (volkmer). Sementara Kamalipour (2002:xii-xiii) selain menerima istilah di atas, ia menambahkan pula istilah “transborder communication, intercultural communication, cross-cultural communication dan international relations” sebagai padanan lain dari istilah komunikasi internasional”. Bagi Kamalipour, semua istilah itu mengandung konsep yang multidimensional dan sangat kompleks. Karena itu, setiap usaha merumuskan definisi yang sederhana pasti hasilnya tidak lengkap dan akan mengundang perdebatan. Kata “international” didefinisikan Collins English Dictionary (2006:417) sebagai: “1) of or involving two or more nations..”. Rumusan ini menjelaskan adanya hubungan antarnegara-bangsa satu dengan yang lainnya. Dari defenisi ini, dapat dipahami bila ada yang mengartikan komunikasi internasional oleh McMillin (2007:8) sebagai:”komunikasi yang berlangsung antarbatas persilangan internasional yakni yang melintasi batas-batas negara-bangsa”(Fortner, 1993:6). Sementara McPhail merumuskan komunikasi internasional sebagai “The cultural economical, political, social and technical analysis of communication patterns and effects across and between nationstate”(2000:2).

Dari definisi-definisi itu dapat dilihat bahwa komunikasi internasional lebih berfokus sebagai bagian dari studi hubungan internasional (Mowlana, 1996;1997). Fokus hubungan internasional selama ini berpusat pada interaksi antarnegara dan antarpemerintahan yang dilakukan melalui diplomasi dan aktivitas propaganda yang menempatkan negara yang kuat mendikte agenda komunikasi negara yang lemah. Allyne (1995:7) misalnya, mengaitkan hubungan internasional dengan komunikasi internasional. Bila hubungan internasional diartikan substansial sebagai kekuasaan (power), maka ada tiga kekuasaan yang menonjol dalam dinamika hubungan internasional, yakni: militery power, economic power and power over opinion. Unsur power over opinion inilah yang secara khusus menjadi bahasan dari kajian komunikasi internasional.

Sejarah Komunikasi Internasional

“Sejarah komunikasi internasional dan pertukaran budaya” kata Kamalipour, dalam Global Communication (2002:viii), “sama tuanya dengan peradaban manusia”. Masyarakat beradab yang tidak pernah dipengaruhi oleh kebudayaan lain, tak akan pernah ada. Pada masa kuno atau abad pertengahan saling mempengaruhi peradaban adalah sesuatu yang lumrah. Tidak ada seorang pun yang mengeluhkannya. Tetapi belakangan, tepatnya sejak abad ke-19 pengaruh kebudayaan asing mulai menjadi masalah karena dua alasan kata Kamalipour. Pertama, batas dan skala pengaruh kebudayaan asing meningkat signifikan. Kedua, bangkitnya nasionalisme di banyak kawasan negeri telah mempengaruhi cara pandang orang terhadap kebudayaan asing. Lahirnya komunikasi internasional di Amerika, Inggris, dan hampir di seluruh kawasan Eropa adalah pada abad 20 dalam konteks propaganda, ekspansi nasional dan penaklukan. Untuk kepentingan riset propaganda, Amerika pada PD I dan II telah membentuk program komunikasi internasional sebagai bidang studi yang resmi di berbagai universitas Amerika Utara. Para sarjana komunikasi antara 1920-an hingga 1950-an banyak berasal dari disiplin ilmu sosiologi, ekonomi dan ilmu politik(McMillin,2007:28). Pada 1926 Harold D. Lasswell mengkaji teknik-teknik perang psikologis bersama Walter Lippman, editor devisi propaganda Amerika. Mereka mempelajari efek teknologi komunikasi terhadap dunia Barat. Hasilnya kemudian, membawa bidang studi komunikasi menjadi bagian dari ilmu sosial. Keduanya – Lippman dan Lasswell – mempromosikan rumus: “who – say what – to whom - with what effect”.

Pada 1955 Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika, telah membuka sebuah program studi, bernama:”Studi Komunikasi Internasional” yang disponsori oleh yayasan perguruan tinggi itu (Allyene, 1997:9). Sejak 1960-an bidang studi ini kemudian dilembagakan di Amerika sebagai salah satu bagian dari bidang studi “Hubungan Internasional”. Banyak sarjana komunikasi internasional dididik dengan latar belakang hubungan internasional seperti misalnya, Hamid Maolana. Sementara yang lain berlatarbelakang ilmu sosiologi seperti Everet M. Rogers dan ilmu psikologi seperti Karl Nordenstreng. Sehabis Perang Dunia II, terjadi Perang Dingin (Cold War) antara Blok Barat yang dipimpin Amerika dengan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet. Perang ini berlangsung dari 1945 hingga 1989 saat tembok Berlin runtuh. Amerika mewakili ideologi kapitalis dan Soviet mewakili ideologi sosialis. Dalam konteks pergulatan komunikasi internasional, Amerika memperjuangkan laissez-faire dan free flow of information yang digagas Komisi Huchin. Belakangan Unesco juga menuntut free flow across border to lead better world yang didukung para peneliti program riset komunikasi internasional (KI) yang tergabung dalam MIT Center for International Studies. MIT ini lalu membentuk Program Riset dalam Komunikasi Internasional yang dipimpin Lasswell, Ithiel de Sola Pool, Karl Dutsch, Daniel Lerner, Schramm, dan Lucian Pye. Riset mereka didanai Ford Foundation.

Keterlibatan Amerika dalam PD II dengan Soviet, membuat para peneliti bias Barat karena strategi KI dirancang agar proBarat dan anti-komunis. Paradigma KI yang menjual doktrin free flow dan the ideal to lead better world kemudian dilegitimasi oleh metoda riset komunikasi yang berpusat pada efek empiris media yang diprakarsai Lasswell, Lazarsfeld dan Hovland. Lahirnya paradigma pembangunan modernisasi yang di dalamnya menempatkan media sebagai magic multiplyer effects pembangunan, telah dijadikan sarana untuk mencapai cita-cita perubahan masyarakat dari tradisonal menuju modern. Namun sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi, agensi-agensi kantor berita Barat seperti Reuters atau French Press Agency dan Associated Press (AP) telah mengkonstruksi realitas dunia menurut persepsi Barat. Kala itu, Barat lebih banyak memberitakan berbagai peristiwa negatif negara-negara Dunia Ketiga seperti Amerika Latin, Afrika dan Asia. Mereka digambarkan sebagai negara yang penuh bencana, kudeta, revolusi dan berita-berita negatif lainnya. Di tengah kondisi demikian, datang tawaran pinjaman utang luar negeri, alih teknologi dan resep budaya agar negara-negara Dunia Ketiga mengikuti jalan modernisasi Barat dan sebagian negara Amerika Latin, Afrika dan Asia pun mengikuti jalan tersebut.

Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, pada 1960-an diam-diam muncul para sarjana komunikasi Eropa yang tergabung dalam International Association Communication Research (IAMCR). Kelompok ini berasal dari Association for Education in Journalism and mass Communication (AEJMC) yng memiliki tradisi riset kritis. Dengan bantuan Unesco, mereka membentuk Education and Research in International Communication. Dalam riset-riset mereka, ditemukan betapa program-program berita dan hiburan Barat mendominasi media Amerika latin, Afrika dan Asia. Karena itu, mereka melihat adanya imperialisme baru yang bukanlah dilakukan secara hard power melainkan melalui soft power yang disebutnya sebagai imperialisme budaya dan media. Munculnya mazhab Frankfurt dalam studi komunikasi internasional melalui perspekrtif dependensia dan ekonomi politik misalnya, studi komunikasi internasional telah mengalami “de-westernisasi”, meminjam istilah Curran dan Park (2000) sehingga muncul perspektif alternatif pada studi komunikasi internasional dari Eropa dan Asia.

Konsep Komunikasi Internasional

Konsep komunikasi Internasional : who says what in which channel to whom with what effect.

Kriteria Komunikasi Internasional 

a.       Jenis isu, pesannya bersifat global.

b.      Komunikator dan komunikannya berbeda kebangsaan.

c.       Saluran media yang digunakan bersifat internasional.

d.      Interaksi dan ruang lingkupnya bersifat lintas negara serta berlangsung di antara orang-orang yang berbeda kebangsaan dan memiliki jangkauan penyampaian pesan melintasi batas-batas wilayah suatu negara

Fungsi Komunikasi internasional

a.       Membangun dan mempererat hubungan internasional antar negara dengan meningkatkan kerjasama dan menghindari berbagai konflik, baik konflik satu negara dengan negara lain maupun konflik pemerintahan dengan masyarakat pada suatu negara. 

b.      Membangun dinamisme hubungan antar negara dan menjalin hubungan baik taraf internasional dengan mencakup kajian dan fokus di berbagai bidang dan kelompok masyarakat pada masing-masing negara maupun antar negara. )

c.       Berperan sebagai pendukung pelaksanaan politik luar negeri yang baik dan berkualitas pada negara-negara yang terkait dalam melaksanakan kepentingannya satu sama lain. 

Ruang  Lingkup Komunikasi Internasional

a.       Perspektif  Diplomatik.

b.      Perspektif  Jurnalistik

c.       Perspektif  Propaganda

d.      Perspektif  Kulturalistik

e.       Perspektif  Bisnis

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Stevenson, R.L. (1994). Global Communication in the Twenty-First Century. New York: Longman.

Herman, Edward and McChesney, R (1997). The Global Media: The Missionaries of Corporate Capitalism. Washington, DC: Cassell.

Mowlana, Hamid (1997). Global Information and World Communication. LondonThousand Oak and New Delhi: Sage Publication.

Alleyne, Mark D.(1995). International Power and International Communication. New York: Marten Press.

Fortner, Robert S.(1993). International Communication: History, Conflict, and Control of the Global Metropolis. Belmont, California: Wadswort Publishing Company.

McMillin, Divya C.(2007). International Media Studies. Main Street, Malden: Blackwell Publishing.

Pakarkomunikasi.com/komunikasi-internasional. Diakses pada 14 Oktober 2020 pukul 10.10

Kompasiana.com/komunikasi-internasional. Diakses pada 14 Oktober 2020 pukul 10.30

 

 

Pertemuan 4 ( 21-10-2020 )

Pada pertemuan keempat pada mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya, pak Amar tidak bisa masuk kelas karena beliau sedang sibuk mengikuti seminar proposal mahasiswa semester akhir. Oleh karena itu beliau menyiapkan video pembelajaran mengenai materi Proses, Teori dan Model Komunikasi Lintas Budaya yang selanjutnya mahasiswa di minta untuk me review video tersebut dengan acuan topik bahasan itu dengan analisa/literatur yang dapat di pertanggung jawabkan. Berikut ini adalah rangkuman versi saya yaitu sebagai berikut :

Proses Komunikasi Lintas Budaya

Komunikasi tidak bisa di pandang sekedar sebagai sebuah kegiatan yang menghubungkan manusia saja dalam keadaan pasif, tetapi komunikasi harus di pandang sebagai proses yang menghubungkan manusia melalui sekumpulan tindakan yang terus menerus di perbaharui. Komunikasi itu dinamik,selalu berlangsung ataupun sering berubah-ubah.Itulah salah satu karakteristik komunikasi. Titik berat komunikasi lintas budaya adalah proses komunikasi yang terjadi dalam berbagai macam budaya yang berbeda. Komunikasi lintas budaya merupakan pintu gerbang agar dapat memahami komunikasi antar budaya atau intercultural communication.

Teori Komunikasi Lintas Budaya

a. Face Negotiation Theory

b. Expectancy Violations Theory Expectancy Violations Theory

c. Teori Akomodasi Komunikasi

d. Conversational constraints theory

e. Anxiety/Uncertainty Management Theory

Model Komunikasi

a. One way Process Communication, yaitu suatu proses komunikasi yang berlangsung satu arah, tiadanya timbal balikatau umpan balik seketika terjadinya komunikasi. Komunikasi ini banyak terjadi dalam komunikasi massa.

b. Two way Process Communication, dalam proses ini antara komunikator dan komunikan terjadi saling merumuskan dan saling menerima pesan. Komunikasi ini sering terjadi dalam komunikasi tatap muka dan komunikasi antar persona.

Model komunikasi antar budaya menurut para ahli sebagai berikut :

1. Model Komunikasi Antarbudaya Menurut Porter & Larry A. Samovar Budaya mempengaruhi prilaku komunikasi individu, budaya yang berbeda akan menghasilkan pengaruh serta sifat komunikasi yang berbeda pula. Ketika seorang individu berkomunikasi dengan individu lain yang memiliki kebudayaan berbeda maka makna pesan yang disampaikan komunikator akan berubah mengikuti persepsi budaya komunikan. Misalkan individu dengan budaya A menyampaikan pesan kepada individu dengan budaya B dan budaya C, dimana budaya A dengan budaya B memilki lebih banyak kemiripan sedangkan budaya C memiliki perbedaan yang cukup besar dibanding budaya A. Maka pesan yang diterima B hanya akan sedikit berubah, cukup mendekati pesan asli yang disampaikan oleh A, karena memiliki persepsi budaya yang mirip dengan A. Namun pesan yang diterima oleh C akan sangat berbeda, sebab dipengaruhi budaya yang sangat berbeda pula. Contohnya komunikasi mengenai eksistensi Tuhan yang dilakukan oleh individu yang beragama Kristen (budaya A) dengan individu yang beragama Islam (budaya B). Keduanya akan sepakat bahwa Tuhan itu memang ada. Berbeda jika komunikasi mengenai eksistensi Tuhan dilakukan oleh individu beragama tersebut (budaya A) dengan seorang atheis (budaya C). Maka komunikasi tidak akan efektif, sebab terdapat persepsi yang sangat berbeda mengenai keberadaan Tuhan, budaya A mengakui adanya Tuhan, namun budaya C tidak mengakui adanya Tuhan.

 2. Model Komunikasi Antar Budaya Menurut William B. Gudykunst dan Young Yun Kim Model komunikasi antar budaya menurut William B.Gudykunst dan Young Yun Kim merupakan komunikasi yang dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari budaya yang berlainan, atau orang asing. Dalam model ini, masing-masing individu berperan sebagai pengirim sekaligus juga penerima pesan. Dengan begitu, pesan yang disampaikan seseorang merupakan umpan balik untuk lawan bicaranya. Terjadi penyandian serta penyandian balik pesan. Gudykunst dan Kim menyatakan bahwa penyandian dan penyandian balik pesan tersebut merupakan sebuah proses interaktif. Proses tersebut dipengaruhi oleh filter konseptual seperti budaya, sosiobudaya, psikobudaya, dan faktor lingkungan. Persepsi seseorang atas lingkungannya mempengaruhi cara seseorang dalam menafsirkan rangsangan serta memprediksi prilaku orang lain.

3. Model Dimensi Waktu Dalam Komunikasi Antarbudaya Menurut Tom Bruneau Menurut model ini waktu merupakan variable penting yang mendasari semua situasi komunikasi. Waktu menentukan hubungan, pola hidup antar manusia, dan pola hidup manusia tersebut dipengaruhi oleh budayanya. Dimensi waktu meliputi perbedaan konsepsi waktu dan tempo khusus dari tiap kelompok budaya (perilaku temporal).

 

DAFTAR PUSTAKA

www.kompasiana.com/model-komunikasi-antar-budaya. diakses pada pukul 9.45

//pakarkomunikasi.com/komunikasi-lintas-budaya.diaksesd padea pukul 9.55

www.kompasiana.com/putriunifa/proses-komunikasi-antarbudaya. diakses pada pukul 10.10

 

 

Pertemuan 5 ( 04-11-2020 )

            Pada pertemuan kelima ini, pak Amar memberikan tugas mereview video materi Hakikat dan Unsur Komunikasi Lintas Budaya yang telah di posting dengan memberikan studi literatur yang dapat di pertanggung jawabkan untuk melengkapi review video tersebut. Kemudian, mendeskripsikan sistematis tentang Hakikat dan Unsur Komunikasi Lintas Budaya. Berikut ini adalah hasil tugas review dan deskripsi versi saya yaitu sebagai berikut :

Hakikat Komunikasi Antar Budaya

Menurut Devito, ada dua hakikat komunikasi antar budaya, yaitu:

a. Enkulturasi, mengacu pada proses dengan mana kultur ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagaimana mempelajari kultur, bukan mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen. Orangtua, kelompok teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama di bidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka.

b. Akulturasi, mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain. Menurut Kim, penerimaan kultur baru bergantung pada sejumlah faktor. Imigran yang datang dari kultur yang mirip dengan kultur tuan rumah akan terakulturasi lebih mudah. Demikian pula, mereka yang lebih muda dan lebih terdidik lebih cepat terakulturasi daripada mereka yang lebih tua dan kurang berpendidikan.

Unsur-unsur Komunikasi Antar Budaya

Unsur-unsur sosio budaya ini merupakan bagian-bagian dari komunikasi antarbudaya. Bila memadukan unsur-unsur tersebut, sebagaimana yang dilakukan ketika berkomunikasi, unsur-unsur tersebut bagaikan komponen-komponen suatu sistem stereo, setiap komponen berhubungan dengan dan membutuhkan komponen lainnya. Unsur-unsur tersebut membentuk suatu matriks yang kompleks mengenai unsur-unsur yang sedang berinteraksi yang beroperasi bersama-sama, yang merupakan suatu fenomena kompleks yang disebut komunikasi antarbudaya.

Menurut Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, unsur-unsur komunikasi antarbudaya terdiri dari 3 unsur, yaitu:

1. Persepsi, adalah proses internal yang dilakukan untuk memilih, mengevaluasi dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Dengan kata lain, persepsi adalah cara mengubah energi-energi fisik lingkungan menjadi pengalaman yang bermakna. Komunikasi antarbudaya akan lebih dapat dipahami sebagai perbedaan budaya dalam mempersepsi obyek-obyek sosial dan kejadian-kejadian. Suatu prinsip penting dalam pendapat ini adalah bahwa masalah-masalah kecil dalam komunikasi sering diperumit oleh perbedaan-perbedaan persepsi ini. Untuk memahami dunia dan tindakan-tindakan orang lain, harus lebih dahulu memahami kerangka persepsinya. Tiga unsur sosio budaya mempunyai pengaruh besar dan langsung atas makna-makna yang dibangun dalam persepsi. Unsur-unsur tersebut adalah sistem-sistem kepercayaan (belief), nilai (value), sikap (attitude); pandangan dunia (world view), dan organisasi sosial (social organization). Ketiga unsur utama ini mempengaruhi persepsi dan makna yang dibangun dalam persepsi, unsur-unsur tersebut mempengaruhi aspek-aspek makna yang bersifat pribadi dan subyektif.

a. Sistem-sistem kepercayaan, nilai, sikap Kepercayaan secara umum dapat dipandang sebagai kemungkinan-kemungkinan subyektif yang diyakini individu bahwa suatu obyek atau peristiwa memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Kepercayaan melibatkan hubungan antara obyek yang dipercayai dan karakteristik-karakteristiknya yang membedakannya.

Nilai-nilai adalah aspek evaluatif dari sistem-sistem kepercayaan, nilai dan sikap. Dimensi-dimensi evaluatif ini meliputi kualitas-kualitas seperti kemanfaatan, kebaikan, estetika, kemampuan memuaskan kebutuhan, dan kesenangan. Meskipun setiap orang mempunyai suatu tatanan nilai yang unik, terdapat pula nilai-nilai yang cenderung menyerap budaya. Nilai-nilai budaya biasanya berasal dari isu-isu filosofis lebih besar yang merupakan bagian dari suatu milleu budaya. Nilai-nilai ini umumnya normatif dalam arti bahwa nilai-nilai tersebut menjadi rujukan seorang anggota budaya tentang apa yang baik dan apa yang buruk, yang benar dan yang salah, yang sejati dan palsu, positif dan negatif.

Nilai-nilai budaya adalah seperangkat aturan terorganisasikan untuk membuat pilihan-pilihan dan mengurangi konflik dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai dalam suatu budaya menampakkan diri dalam perilakuperilaku para anggota budaya yang dituntut oleh budaya tersebut. Nilai-nilai ini disebut nilai-nilai normatif. Kepercayaan dan nilai memberikan kontribusi bagi pengembangan dan isi sikap. Diperbolehkan mendefinisikan sikap sebagai suatu kecenderungan yang diperoleh dengan cara belajar untuk merespon suatu obyek secara konsisten. Sikap itu dipelajari dalam suatu konteks budaya. Bagaimanapun lingkungan, lingkungan itu akan turut membentuk sikap, kesiapan untuk merespon, dan akhirnya merubah perilaku.

 b. Pandangan dunia (world view) Unsur budaya ini, meskipun konsep dan uraiannya abstrak, merupakan salah satu unsur terpenting dalam aspek-aspek perceptual komunikasi antarbudaya. Pandangan dunia berkaitan dengan orientasi suatu budaya terhadap hal-hal seperti Tuhan, kemanusiaan, alam, alam semesta, dan masalah-masalah filosofis lainnya yang berkenan dengan konsep makhluk. Pandangan dunia mempengaruhi kepercayaan, nilai, sikap, penggunaan waktu, dan banyak aspek budaya lainnya.

c. Organisasi sosial (social organization) Cara bagaimana suatu budaya mengorganisasikan diri dalam lembaga-lembaganya juga mempengaruhi bagaimana anggota-anggota budaya mempersepsi dunia dan bagaimana mereka berkomunikasi.

Proses-proses verbal tidak hanya meliputi bagaimana berbicara dengan orang lain namun juga kegiatan-kegiatan internal berpikir dan pengembangan makna bagi kata-kata yang digunakan. Proses-proses ini (bahasa verbal dan pola-pola berpikir) secara vital berhubungan dengan persepsi dan pemberian serta pernyataan makna.

Bahasa verbal. Secara sederhana bahasa dapat diartikan sebagai suatu sistem lambang terorganisasikan, disepakati secara umum dan merupakan hasil belajar, yang digunakan untuk menyajikan pengalaman-pengalaman dalam suatu komunikasi geografis atau budaya. Bahasa merupakan alat utama yang digunakan budaya untuk menyalurkan kepercayaan, nilai, dan norma. Bahasa merupakan alat bagi orang-orang untuk berinteraksi dengan orang-orang lain dan juga sebagai alat untuk berpikir. Pola-pola berpikir. Pola-pola berpikir suatu budaya mempengaruhi bagaimana individu-individu dalam budaya itu berkomunikasi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi bagaimana setiap orang merespon individu-individu dari suatu budaya lain.

Proses-proses nonverbal merupakan alat utama untuk pertukaran pikiran dan gagasan, namun proses-proses ini sering dapat diganti oleh proses-proses nonverbal. Proses-proses nonverbal yang relevan dengan komunikasi antarbudaya, terdapat tiga aspek pembahasan: perilaku nonverbal yang berfungsi sebagai bentuk bahasa diam, konsep waktu, dan penggunaan dan pengaturan ruang.

Perilaku nonverbal. Sebagai suatu komponen budaya, ekspresi nonverbal mempunyai banyak persamaan dengan bahasa. Keduanya merupakan sistem penyandian yang dipelajari dan diwariskan sebagai bagian pengalaman budaya. Karena kebanyakan komunikasi nonverbal berlandaskan budaya, apa yang dilambangkannya seringkali merupakan hal yang telah budaya sebarkan kepada anggota-anggotanya. Lambang-lambang nonverbal dan respons-respons yang ditimbulkan lambang-lambang tersebut merupakan bagian dari pengalaman budaya, apa yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya. Setiap lambang memiliki makna karena orang mempunyai pengalaman lalu tentang lambang tersebut. Budaya mempengaruhi dan mengarahkan pengalamanpengalaman itu, dan oleh karenanya budaya juga mempengaruhi dan mengarahkan bagaimana mengirim, menerima dan merespons lambang-lambang nonverbal tersebut.

Konsep waktu suatu budaya merupakan filsafatnya tentang masa lalu, masa sekarang, masa depan, dan pentingnya waktu itu. Waktu merupakan komponen budaya yang penting. Terdapat banyak perbedaan mengenai konsep ini antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya, dan perbedaan-perbedaan tersebut mempengaruhi komunikasi. Penggunaan ruang. Cara orang menggunakan ruang sebagai bagian dalam komunikasi antarpersonal disebut proksemik (proxemics). Proksemik tidak hanya meliputi jarak antara orang-orang yang terlibat dalam percakapan, tetapi juga orientasi fisik mereka. Orientasi fisik juga dipengaruhi oleh budaya, dan turut menentukan hubungan sosial.

 

DAFTAR PUSTAKA

Joseph A. Devito, Komunikasi Antarmanusia (Jakarta: Professional books, 1997), hlm. 479.

Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antar Budaya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990), hlm. 27-36.

 

Pertemuan 6 ( 11-11-2020 )

            Pada pertemuan keenam ini, pak Amar memberikan tugas kepada mahasiswa untuk membuat video materi “Budaya dan Kontekstualisasi Sub Budaya” dengan konten materi yang di dalam nya terdapat rujukan yang dapat di pertanggung jawabkan keilmiahannya. Durasi video nya bebas serta konsep video nya se-kreatif mungkin. Saya telah menyelesaikan tugas tersebut dan meng-upload video nya di YouTube channel saya, kalian bisa klik di sini ( https://youtu.be/RycLAU34UHw ) untuk menonton, happy watching~!

 

Pertemuan 7 ( 18-11-2020 )

            Pada pertemuan ketujuh ini, pak Amar melaksanakan kelas melalui Google Meeting dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam forum, jadi beliau memanfaatkan pendalaman materi yang telah di tugaskan kepada mahasiswa minggu lalu di pertemuan ke-6 dengan melakukan diskusi atas materi yang telah disampaikan pada pekan lalu yaitu tentang Budaya, Subbudaya, dan Kontekstualisasi. Pada diskusi kali ini, pemateri serta notulen dari mahasiswa sendiri, yakni pemateri pertama, Alfareza lalu pemateri kedua, Nur Zaenal Abidin kemudian pemateri ketiga, Muhammad Adam Yusuf. Selanjutnya, untuk notulen ada saya, Citra Mutiara dan notulen kedua, Rizqi Ilahi. Tugas pak Amar kali ini hanya memantau jalan nya diskusi serta memberikan penjelasan tambahan yang belum di sampaikan oleh pemateri. Berikut ini hasil notulen saya, sebagai berikut :

Pemateri 1, Alfareza Zuha

Pengertian budaya, budaya sebagai tradisi atau adat istiadat. Ada juga yang mengatakan budaya sebagai interaksi sosial antara individu dan individu yang lain. Sub budaya, budaya yang ada di dalam suatu masyarakat/ pembagian budaya yg di bagi menjadi beberapa yang lebih kecil. Tumbuh dr adanya kelompok yang ada di dalam masyarakat. Sub budaya bisa tumbuh dari adanya kelompok-kelompok di dalam suatu masyarakat. Perbedaan kelompok tersebut berdasarkan karakteristik social, ekonomi dan demografi. Demografi akan menggambarkan karakteristik suatu penduduk. Di dalam varibel demografi tersebut, kita bisa mendapatkan sub budaya yang berbeda, yaitu suku sunda, batak, padang. Cabang budaya suatu masyarakat bisa ditunjukkan oleh kelas social yang ada dalam masyarakat. Kelas social menunjukkan adanya kelompok-kelompok yang secara umum mempunyai perbedaan dalam hal pendapatan, gaya hidup dan kecenderungan konsumsi.

Kelas Sosial dapat ditentukan dari :

a.       Keluarga, ini sangat berpengaruh terhadap budaya seseorang, diamana kebanyakan orang akan terbawa atau mengikuti budaya dari keturunan

b.      Pekerjaan, mempengaruhi gaya hidup dan merupakan basis penting untuk menyampaikan prestise, kehormatan dan respect

c.       Pemilikan, simbol keanggotaan kelas, tidak hanya jumlah pemilikan, tetapi sifat pilihan yang dibuat. Keputusan pemilikan yang mencerminkan kelas social suatu keluarga adalah pilihan dimana untuk tinggal.

d.      Orientasi Nilai. Nilai kepercayaan bersama mengenai bagaimana orang harus berperilaku- menunjukkan kelas social dimana seseorang termasuk di dalamnya.

Kontekstualisasi : Usaha menempatkan sesuatu dalam konteksnya, sehingga tidak asing lagi, tetapi terjalin dan menyatu dengan keseluruhan.

Faktor yang menimbulkan kontekstualisasi

a.       Dominasi Budaya

b.      Teologi tidak relevan, artinya satu pemikiran orang dengan pemikiran lainnya tidak selaras.

c.       Gerakan nasionalisasi

 

Pemateri 2, Nur Zaenal Abidin

Definisi budaya sendiri dapat diartikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan budi, akal manusia, kebiasaan, tingkah laku, dan adat istiadat. Budaya tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat daerah, serta terus diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Fungsi-fungsi budaya

a.      Menjadi representasi suatu daerah atau wilayah tertentu.

  1. Sebagai pedoman hubungan manusia atau kelompok.
  2. Memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.
  3. Sebagai media berkomunikasi dengan individu atau kelompok lain.
  4. Mendorong terjadinya perubahan masyarakat.
  5. Menjadi identitas bangsa secara nasional.

Unsur- unsur budaya

a.      Bahasa, media bagi seseorang untuk dapat berkomunikasi secara lisan atau verbal.

  1. Sistem pengetahuan, pengetahuan tentang kondisi alam sekelilingnya dan sifat-sifat peralatan yang digunakannya.
  2. Sistem teknologi dan peralatan, cara seorang dalam mengelola dan mengumpulkan bahan-bahan mentah hingga menjadi bahan pakai.
  3. Kesenian, hasil karya manusia yang mengandung sisi estetika dan keindahan.
  4. Sistem mata pencaharian dan ekonomi, yakni segala usaha atau upaya manusia untuk medapatkan barang atau jasa yang dibutuhkan.
  5. Religi, sistem yang terpadu antara keyakinan dan praktek keagamaan yang berhubungan dengan hal-hal yang suci.
  6. Sistem kekerabatan dan organisasi kemasyarakatan, sekelompok masyarakat yang anggotanya memiliki kesamaan satu sama lain dalam suatu sistem kekerabatan tertentu.

Sub budaya adalah pola pola kultural yang menonjol, dan merupakan bagian atau segmen dari populasi masyarakat yang lebih luas dan lebih kompleks (Ristiyanti dalam macionis,2004)

Makna dari teknologi kontekstualisasi yakni teologi kontekstualisasi dengan sungguh-sungguh sangat memperhatikan konteks sejarah dan budaya dimana seorang hidup dan berkarya. Teologi kontekstualisasi harus mampu menafsir dan membangun.

Pemateri 3, Muhammad Adam

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang semuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Subbudaya adalah sekelompok orang yang memiliki perilaku dan kepercayaan yang berbeda dengan kebudayaan induk mereka, budaya induk adalah kebudayaan yang what majority belief. Kontekstualisasi adalah usaha menempatkan sesuatu dalam konteksnya, sehingga tidak asing lagi, tetapi terjalin dan menyatu dengan keseluruhan seperti benang dalam tekstil. Dalam hal ini tidak hanya tradisi kebudayaan yang menentukan tetapi situasi dan kondisi sosial pun turut berbicara. Hal ini erat kaitanya dengan berkomunikasi antar sesama. Apalagi dimasa pandemic seperti rentan terjadi perbedaan ketika berkomunikasi karna kita tidak melihat lawan bicara kita secara langsung.

Semua pemateri telah menyelesaikan pembahasan tentang topik budaya, sub budaya, dan kontektualisasi dan ditutup dengan pembahasan lebih lanjut tentang apa yang telah disampaikan oleh pemateri. Dilanjut dengan sesi pertanyaan, Ivona bertanya kepada pemateri pertama Alfareza, pada faktor subbudaya teologhy yang tidak relevan maksud dari itu bagaimana dan contohnya itu seperti apa?. Alfareza menjawab maksudya itu keyakinan jadi dari pemikiran orang yang tidak sejalan, tapi tetap sejalin. Dalam kelompok ada suatu anggota yg berpikiran A tapi itu berlawanan dengan konsep dari suatu kelompok tapi dengan adanya kontekstualisasi ini untuk menyatukan konsep dari anggota A dengan prinsip anggota. Kemudian Rio bertanya ditujukan ke 3 materi siapa saja bisa menjawab, mengenai Indonesia masyarakat yang majemuk bagaimana kita menanggapinya dengan baik jika kita berada ditengah tengah masyarakat yang majemuk. Adam jawab masyarakat majemuk kemungkinan masalah yang rentan terjadi itu merasa salah padahal kita bisa mengatasi suatu permasalahan itu.

Pertanyaan terakhir diajukan oleh Angga, Kenapa sih banyak dikalangan mahasiswa, misal dari Papua kan ia beda budaya sama kita. Nah itu kenapa mahasiswa dari dari Jawa yang berbeda budaya itu tidak bisa menerima misal budaya nya orang papua itu tadi? Kemudian saya menjawab ( Citra ), membahas di komunikasi antar budaya makanya dengan adanya pelajaran ini benefitnya itu kita bisa mengatasi adanya perbedaan, dan mengatasi hambatan dalam berkomunikasi antar budaya. Dan ditambahkan oleh Adam, menurutnya Adam “mayoritas diatas minoritas” dan itu berlaku dalam semua konteks seperti agama misalnya.

 

Pertemuan 8 ( 25-11-2020 )

            Pada pertemuan kedelapan ini saya melaksanakan UTS. Setelah selama 7 pertemuan perkuliahan kemarin telah mendalami berbagai topik untuk mengantarkan pemahaman tentang Komunikasi Lintas Budaya. Pada UTS kali ini, pak Amar memberikan pilihan tugas dimana mahasiswa bisa memilih salah satu dari alternatif tugas yang lebih di sukai dengan batas waktu pengumpulan 3 minggu, yakni :

Pertama, menyusun buku kecil dengan membuat desain sampul, judul buku yang tepat terkait topik-topik materi yang telah kita pelajari dalam setengah semester ini. Adapun kelengkapan lain untuk penulisan buku kecil, disesuaikan dan di susun se-kreatif mungkin seperti layaknya penulis.

Kedua, me-review satu buku yang di dalamnya ada satu atau lebih dari topik yang telah di kaji selama setengah semester ini.

Ketiga, mengkliping video tentang topik yang telah di kaji dalam setengah semester.

            Dari ketiga pilihan tersebut, saya memilih opsi kedua yaitu mereview buku. Judul buku yang saya review adalah “Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya” karya Dr. Alo Liliweri, M.S. Buat yang penasaran hasil review saya bisa kalian liat di sini (https://drive.google.com/open?id=1ooEgbV1Pn2Yj5BWZ-CQZPYedSVPHnZgk&authuser=0). Enjoy~!

 

Pertemuan 9 ( 02-12-2020 )

Pada pertemuan kesembilan ini, pak Amar membagikan video yang terkait dengan materi Komunikasi Budaya Tinggi dan Rendah melalui Google Classroom. Selanjutnya, mahasiswa di minta untuk memahami video tersebut selama 1 jam.  Setelah itu, pak Amar melakukan kajian bersama dengan mahasiswa melalui Google Meeting. Berikut ini adalah resume materi “Komunikasi Budaya Tinggi dan Rendah” versi saya, sebagai berikut :

Komunikasi konteks tinggi

Komunikasi konteks tinggi adalah komunikasi yang bersifat implisit dan ambigu, yang menuntut penerima pesan agar menafsirkannya sendiri. Komunikasi konteks tinggi bersifat tidak langsung, tidak apa adanya. Komunikasi konteks – tinggi mengandung pesan relatif banyak terdapat dalam konteks fisik (physical context), sehingga makna pesan hanya dapat dipahami dalam konteks pesan tersebut.

Dalam komunikasi konteks tinggi, makna terinternalisasikan pada orang yang bersangkutan, dan pesan lebih ditekankan pada aspek non – verbal (internalized in the person while very little is in the coded). Dalam komunikasi yang demikian, mengetahui suatu kata atau huruf hanya memberi sedikit makna bila tidak diketahui konteks penggunaannya.

Ciri-ciri komunikasi konteks tinggi

a.       Typically short ( yang singkat )

b.      Pithy (penuh Arti )

c.       Poetic ( Puitis ).

 

Komunikasi konteks tinggi sangat mungkin dipahami jika digunakan di dalam kelompoknya sendiri (in group), tidak untuk kelompok luar (outsiders)

Berikut ini ciri-ciri budaya konteks tinggi :

a.       Pengambilan keputusan (decision making) terhadap suatu hal cenderung lamban dan di perlambat, bukan maksud untuk mengulur-ngulur waktu dan juga bukan karena kurang cerdas, namun karena cenderung menjaga perasaan orang lain

b.      terkadang pemecahan masalah (problem solving) tidak mengacu pada subtansi awal, sehingga cenderung kemana-mana

c.       agak sedikit lamban jika membuat keputusan dalam suatu negosiasi, namun jika orang yang diajak negoisasi adalh yang sangat kredibel dan sangat dipercaya maka, proses negosiasi akan berlangsung cepat

d.      Masalah pribadi biasanya tidak terpisah dari masalah pekerjaan

e.       Adanya jarak antara atasan dengan bawahan

Komunikasi konteks-tinggi bertipikal sedikit berbicara, implisit, puitis. Orang berbudaya konteks-tinggi menekankan isyarat kontekstual, sehingga ekspresi wajah, tensi, gerakan, kecepatan interaksi dan lokasi interaksi lebih bermakna. Orang dalam berbudaya konteks-tinggi mengharapkan orang lain memahami suasana hati yang tak terucapkan, isyarat halus dan isyarat lingkungan.

Dalam interaksi konteks-tinggi pesan dalam komunikasi akan mudah dimengerti oleh kelompoknya (orang yang berkonteks-tinggi).Sulitnya untuk mengatakan tidak, bagi orang Indonesia bukan sekedar basa-basi, situasi demikian benar-benar ada apa adanya (reality) di lingkungan kita sehari-hari, yang oleh Edward T. Hall dikatakan ‘places cultures along a continuum’ (bersemi ada dalam budayanya). Orang Indonesia lebih memilih diam daripada mengucapkan kata tidak secara langsung.

 

Komunikasi konteks rendah

Komunikasi konteks rendah adalah komunikasi yang bersifat langsung, apa adanya, lugas tanpa berbelit-belit ngalor-ngidul. Karakter komunikasi semacam ini biasa terjadi di Barat, mereka sukanya to the point tidak suka basa-basi. Pada umumnya, komunikasi konteks-rendah ditujukan pada pola komunikasi mode lisan langsung (direct verbal mode)- pembicaraan lurus, kesiapan non verbal (nonverbal immediacy) dan mengirim berorientasi nilai (sender-oriented values). Pengirim bersikap tanggung jawab untuk menyampaikan secara jelas. Dalam komunikasi konteks rendah, pembicara diharapkan untuk lebih bertanggung jawab untuk membangun sebuah kejelasan, pesan yang meyakinkan sehingga pendengar dapat membaca sandi (decode) dengan mudah.

Ciri-ciri komunikasi konteks rendah

a.       must be longer

b.      more elaborated

c.       explicit

(ciri komunikasinya bisa menggambarkan atau bisa juga menjelaskan hingga cukup tampak rinci dan panjang, dan saat itu juga disampaikan secara eksplisit).

Berikut ini ciri-ciri budaya konteks rendah :

a.       Decision making cepat, fokus, dan effisien, bahkan cenderung tidak memikirkan perasaan orang lain, karena penganut budaya ini terbiasa berkata apa adanya

b.      Problem solving juga fokus kepada subtansi dan focuss serta tidak keluar kemana-mana

c.       Negosiasi cepat aslakan ada bukti dan keterangan tertulis yang kuat

d.      Professional dan tidak mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan

e.       Atasan dengan bawahan terbuka dan tidak ada sapaan kehormatan seperti Mr/Mrs kepada atasan.

Budaya konteks-rendah cenderung menganut “waktu monokronik”, waktu monokronik adalah waktu yang berjalan secara linear. Waktu linear dianggap berjalan dari masa lalu ke masa depan, seperti garis lurus, dan tidak pernah kembali. Waktu dianggap objektif, dapat dihitung, dihemat, dihabiskan, dan dibuang. Maka waktu menjadi berharga, sehingga muncullah pribahasa Time is money. Efisiensi waktu adalah ciri khas dari budaya konteks-rendah, one-thing-at-one-time, being on time,getting the job done by a deadline.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Angela Gamsriegler. 2005. High-Context And Low-Context Communication Styles. Ibid. halaman 3.

Hall, E. T. (1976). Beyond culture. New York: Dubleday Dell Publishing.

Mulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Efektif Suatu Pendekatan Lintas Budaya : Bandung, Remaja Rosdakarya.

 

 

Pertemuan 10 ( 16-12-2020 )

Pada pertemuan kesepuluh ini, pak Amar membagikan video mengenai materi “Teori Interaksi Simbolik, Proses, Makna & Simbol dalam Interaksi” untuk bisa di pahami serta di pelajari oleh mahasiswa. Selanjutnya, mahasiswa di minta untuk membuat materi/artikel/PPT dengan rujukan literatur yang dapat di pertanggung jawabkan kualitas keilmiahannya. Dari beberapa pilihan tersebut, saya memutuskan untuk memilih membuat PPT tentang Teori Interaksi Simbolik, Proses, Makna & Simbol dalam Interaksi”. Hasil PPT tersebut bisa kalian liat di sini ( http://bit.ly/PPTcims ) Enjoy~!

 

 

Pertemuan 11 ( 30-12-2020 )

Pada pertemuan kesebelas ini, pak Amar melaksanakan kelas melalui Google Meeting dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam forum, jadi beliau memanfaatkan pendalaman materi yang telah di tugaskan kepada mahasiswa minggu lalu di pertemuan ke-10 dengan melakukan diskusi atas materi yang telah disampaikan pada pekan lalu yaitu Teori Interaksi Simbolik, Proses, Makna & Simbol dalam Interaksi” Pada diskusi kali ini, host, pemateri serta notulen dari mahasiswa sendiri. yakni, nara sumber : Amila Zunita Putri, R januaro Wardoyo, Mia Dwi Amalia; Host: Najma; Notulen: Nur Zainal Abidin & Ivona Islamiyah. Berikut ini hasil resume saya dari yang di jelaskan oleh pemateri, sebagai berikut :

 

Teori Interaksi Simbolik

            George Herbert Mead adalah tokoh yang tidak bisa lepaskan dari teori Interaksi Simbolik. Dia adalah pengajar filsafat—--dan bukannya sosiologi— di Universitas Chicago dari 1863-1931 5 . Akan tetapi, banyak mahasiswa sosiologi yang mengambil kuliahnya. Para mahasiswa itulah yang kemudian membukukan “tradisi oral”-nya Mead me-ngenai interaksi simbolik menjadi tertulis, sehingga catatan kuliah mereka dari Mead digunakan sebagai basis karya yang di kemudian hari terkenal dengan, Mind, Self and Society: From the Standingpoint of a Social Behav-iorist. Ada dua akar intelektual paling signifikan dari karya Mead pada khususnya, dan mengenai Interaksi Simbolik pada umumnya, yakni filsafat pragmatisme dan behaviorisme psikologis. Sedangkan masukan penting yang lainnya lagi dari teori ini berasal dari George Simmel 6 , khususnya gagasan-gagasannya mengenai konsep interaksi.

Tokoh ilmuwan yang memiliki andil utama sebagai perintis Interaksi Simbolik adalah G. Herbert Mead. Gagasannya mengenai interaksi simbolik berkembang dan mengalir dalam bukunya Mind, Self, and Society (1934), yang menjadi rujukan teori Interaksi Simbolik. Menurutnya, inti dari teori interaksi simbolik adalah tentang “diri” (self), menganggap bahwa konsepsi-diri adalah suatu proses yang berasal dari interaksi sosial individu dengan orang lain. Bagi Mead, individu adalah makhluk yang bersifat sensitif, aktif, kreatif, dan inovatif. Keberadaan sosialnya sangat menentukan bentuk lingkungan sosialnya dan dirinya sendiri secara efektif (Soeprapto, 2002). Lebih jauh, Mead menjelaskan bahwa konsep “diri” (self) dapat bersifat sebagai objek maupun subjek sekaligus. Objek yang dimaksud berlaku pada dirinya sendiri sebagai karakter dasar dari makhluk lain, sehingga mampu mencapai kesadaran diri (self conciousness), dan dasar mengambil sikap untuk dirinya, juga untuk situasi sosial.

Argumentasi Mead dijabarkan dengan konsep “pengambilan peran orang lain” (taking the role of the other,) —sebagai penjelasan “diri sosial” (social self) dari William James, dan pengembangan teori “diri” dari Cooley—. Menurutnya, “diri” akan menjadi objek terlebih dahulu sebelum ia berada pada posisi subjek. Dalam hal ini, “diri akan mengalami proses internalisasi atau interpretasi subjek, atas realitas struktur yang luas. Dia merupakan produk dialektis dari “I” impulsive dari “diri”, yaitu aku, sebagai subjek dan “Me” sisi sosial dari manusia yaitu “daku” sebagai objek, Perkembangan “diri” (self), sejalan dengan sosialisasi individu dalam masyarakat yakni merujuk kepada kapasitas dan pengalaman manusia sebagai objek bagi diri sendiri. Ringkasnya, argumen Mead, bahwa “diri” muncul dalam proses interaksi karena manusia baru menyadari dirinya sendiri dalam interaksi sosial.

Makna dan Simbol dalam Proses Interaksi Sosial 

Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung. Pepatah tersebut merupakan penguatan tentang konsep diri manusia yang menunjukkan betapa pentingnya proses interaksi bagi manusia dimana saja ia berada. Seakan-akan, manusia itu perlu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Apabila manusia tidak menyesuaikan diri dengan lingkungannya, maka akan menggagalkan proses interaksinya sendiri. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang berinteraksi. Bahkan interaksi itu tidak saja eksklusif antar manusia, tetapi juga inklusif dengan seluruh mikrokosmos.

Dalam kajian teori interaksionis simbolik, George Hebert Mead menekankan pada bahasa yang merupakan sistem simbol dan kata-kata merupakan simbol karena digunakan untuk memaknai berbagai hal. Dengan kata lain, simbol atau teks merupakan representasi dari pesan yang dikomunikasikan kepada publik. Menurut Mead, makna tidak tumbuh dari proses mental soliter namun merupaka hasil dari interaksi sosial atau signifikansi kausal interaksi sosial. Individu secara mental tidak hanya menciptakan makna dan simbol semata, melainkan juga ada proses pembelajaran atas makna dan simbol tersebut selama berlangsungnya interaksi sosial. Bahkan ditegaskan oleh Charon bahwa simbol adalah objek sosial yang digunakan untuk merepresentasikan apa-apa yang disepakati bisa direpresentasikan oleh simbol tersebut.

Interaksi simbolis merupakan salah satu pendekatan yang bisa dilakukan dengan cultural studies. Menurut Norman Denzin dalam bukunya Symbolic Interactionism and Cultural Studies menekankan bahwa semestinya kajian terhadap interaksi simbolis memainkan peranan penting dalam cultural studies yang memusatkan perhatian pada tiga masalah yang terkait satu dengan lainnya, yakni produksi makna kultural, analisis tekstual makna-makna ini dan studi kebudayaan yang dijalani dan pengalaman yang dijalani. Namun, dalam tataran praktis Denzin melihat adanya kecenderungan dari interaksionisme simbolik untuk mengabaikan gagasan yang menghubungkan “simbol” dan “interaksi”.

Demikian review pertemuan perkuliahan mulai dari pertama hingga pada pertemuan yang kesebelas selama semester 3 ini. Semoga bermanfaat dan dapat di terapkan mahasiswa di kehidupan sehari-hari. Terima kasih juga kepada Bapak Amar selaku Dosen Mata Kuliah Komunikasi Lintas Budaya yang telah mengajar dengan sabar serta tulus kepada saya dan teman-teman saya di kelas E1 Ilmu Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya. Sehat-sehat ya pak! Sampai jumpa di semester depan (jika bertemu kembali hehe).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Review Pertemuan 1-11 Mata Kuliah Komunikasi Lintas Budaya

 Citra Mutiara Devi ( E1/ B05219012 ) Pertemuan 1 ( 30-09-2020 ) Pada pertemuan pertama pada mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya, pak Ama...