Senin, 11 Januari 2021

Komunikasi Internasional

 

Komunikasi Internasional

            Komunikasi internasional, kata Stevenson (1994:543): “It’s hard to define, but you know it when you see it”. Selain sulit didefinisikan, para ahli komunikasi pun memberi istilah yang saling berbeda tentang komunikasi internasional ini. Ada yang menyebutnya dengan istilah “global communication” (Maulana), “world communication” (Hamelink, 1994), atau “transnational communication” (volkmer). Sementara Kamalipour (2002:xii-xiii) selain menerima istilah di atas, ia menambahkan pula istilah “transborder communication, intercultural communication, cross-cultural communication dan international relations” sebagai padanan lain dari istilah komunikasi internasional”. Bagi Kamalipour, semua istilah itu mengandung konsep yang multidimensional dan sangat kompleks. Karena itu, setiap usaha merumuskan definisi yang sederhana pasti hasilnya tidak lengkap dan akan mengundang perdebatan. Kata “international” didefinisikan Collins English Dictionary (2006:417) sebagai: “1) of or involving two or more nations..”. Rumusan ini menjelaskan adanya hubungan antarnegara-bangsa satu dengan yang lainnya. Dari defenisi ini, dapat dipahami bila ada yang mengartikan komunikasi internasional oleh McMillin (2007:8) sebagai:”komunikasi yang berlangsung antarbatas persilangan internasional yakni yang melintasi batas-batas negara-bangsa”(Fortner, 1993:6). Sementara McPhail merumuskan komunikasi internasional sebagai “The cultural economical, political, social and technical analysis of communication patterns and effects across and between nationstate”(2000:2).

Dari definisi-definisi itu dapat dilihat bahwa komunikasi internasional lebih berfokus sebagai bagian dari studi hubungan internasional (Mowlana, 1996;1997). Fokus hubungan internasional selama ini berpusat pada interaksi antarnegara dan antarpemerintahan yang dilakukan melalui diplomasi dan aktivitas propaganda yang menempatkan negara yang kuat mendikte agenda komunikasi negara yang lemah. Allyne (1995:7) misalnya, mengaitkan hubungan internasional dengan komunikasi internasional. Bila hubungan internasional diartikan substansial sebagai kekuasaan (power), maka ada tiga kekuasaan yang menonjol dalam dinamika hubungan internasional, yakni: militery power, economic power and power over opinion. Unsur power over opinion inilah yang secara khusus menjadi bahasan dari kajian komunikasi internasional.

Sejarah Komunikasi Internasional

“Sejarah komunikasi internasional dan pertukaran budaya” kata Kamalipour, dalam Global Communication (2002:viii), “sama tuanya dengan peradaban manusia”. Masyarakat beradab yang tidak pernah dipengaruhi oleh kebudayaan lain, tak akan pernah ada. Pada masa kuno atau abad pertengahan saling mempengaruhi peradaban adalah sesuatu yang lumrah. Tidak ada seorang pun yang mengeluhkannya. Tetapi belakangan, tepatnya sejak abad ke-19 pengaruh kebudayaan asing mulai menjadi masalah karena dua alasan kata Kamalipour. Pertama, batas dan skala pengaruh kebudayaan asing meningkat signifikan. Kedua, bangkitnya nasionalisme di banyak kawasan negeri telah mempengaruhi cara pandang orang terhadap kebudayaan asing. Lahirnya komunikasi internasional di Amerika, Inggris, dan hampir di seluruh kawasan Eropa adalah pada abad 20 dalam konteks propaganda, ekspansi nasional dan penaklukan. Untuk kepentingan riset propaganda, Amerika pada PD I dan II telah membentuk program komunikasi internasional sebagai bidang studi yang resmi di berbagai universitas Amerika Utara. Para sarjana komunikasi antara 1920-an hingga 1950-an banyak berasal dari disiplin ilmu sosiologi, ekonomi dan ilmu politik(McMillin,2007:28). Pada 1926 Harold D. Lasswell mengkaji teknik-teknik perang psikologis bersama Walter Lippman, editor devisi propaganda Amerika. Mereka mempelajari efek teknologi komunikasi terhadap dunia Barat. Hasilnya kemudian, membawa bidang studi komunikasi menjadi bagian dari ilmu sosial. Keduanya – Lippman dan Lasswell – mempromosikan rumus: “who – say what – to whom - with what effect”.

Pada 1955 Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika, telah membuka sebuah program studi, bernama:”Studi Komunikasi Internasional” yang disponsori oleh yayasan perguruan tinggi itu (Allyene, 1997:9). Sejak 1960-an bidang studi ini kemudian dilembagakan di Amerika sebagai salah satu bagian dari bidang studi “Hubungan Internasional”. Banyak sarjana komunikasi internasional dididik dengan latar belakang hubungan internasional seperti misalnya, Hamid Maolana. Sementara yang lain berlatarbelakang ilmu sosiologi seperti Everet M. Rogers dan ilmu psikologi seperti Karl Nordenstreng. Sehabis Perang Dunia II, terjadi Perang Dingin (Cold War) antara Blok Barat yang dipimpin Amerika dengan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet. Perang ini berlangsung dari 1945 hingga 1989 saat tembok Berlin runtuh. Amerika mewakili ideologi kapitalis dan Soviet mewakili ideologi sosialis. Dalam konteks pergulatan komunikasi internasional, Amerika memperjuangkan laissez-faire dan free flow of information yang digagas Komisi Huchin. Belakangan Unesco juga menuntut free flow across border to lead better world yang didukung para peneliti program riset komunikasi internasional (KI) yang tergabung dalam MIT Center for International Studies. MIT ini lalu membentuk Program Riset dalam Komunikasi Internasional yang dipimpin Lasswell, Ithiel de Sola Pool, Karl Dutsch, Daniel Lerner, Schramm, dan Lucian Pye. Riset mereka didanai Ford Foundation.

Keterlibatan Amerika dalam PD II dengan Soviet, membuat para peneliti bias Barat karena strategi KI dirancang agar proBarat dan anti-komunis. Paradigma KI yang menjual doktrin free flow dan the ideal to lead better world kemudian dilegitimasi oleh metoda riset komunikasi yang berpusat pada efek empiris media yang diprakarsai Lasswell, Lazarsfeld dan Hovland. Lahirnya paradigma pembangunan modernisasi yang di dalamnya menempatkan media sebagai magic multiplyer effects pembangunan, telah dijadikan sarana untuk mencapai cita-cita perubahan masyarakat dari tradisonal menuju modern. Namun sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi, agensi-agensi kantor berita Barat seperti Reuters atau French Press Agency dan Associated Press (AP) telah mengkonstruksi realitas dunia menurut persepsi Barat. Kala itu, Barat lebih banyak memberitakan berbagai peristiwa negatif negara-negara Dunia Ketiga seperti Amerika Latin, Afrika dan Asia. Mereka digambarkan sebagai negara yang penuh bencana, kudeta, revolusi dan berita-berita negatif lainnya. Di tengah kondisi demikian, datang tawaran pinjaman utang luar negeri, alih teknologi dan resep budaya agar negara-negara Dunia Ketiga mengikuti jalan modernisasi Barat dan sebagian negara Amerika Latin, Afrika dan Asia pun mengikuti jalan tersebut.

Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, pada 1960-an diam-diam muncul para sarjana komunikasi Eropa yang tergabung dalam International Association Communication Research (IAMCR). Kelompok ini berasal dari Association for Education in Journalism and mass Communication (AEJMC) yng memiliki tradisi riset kritis. Dengan bantuan Unesco, mereka membentuk Education and Research in International Communication. Dalam riset-riset mereka, ditemukan betapa program-program berita dan hiburan Barat mendominasi media Amerika latin, Afrika dan Asia. Karena itu, mereka melihat adanya imperialisme baru yang bukanlah dilakukan secara hard power melainkan melalui soft power yang disebutnya sebagai imperialisme budaya dan media. Munculnya mazhab Frankfurt dalam studi komunikasi internasional melalui perspekrtif dependensia dan ekonomi politik misalnya, studi komunikasi internasional telah mengalami “de-westernisasi”, meminjam istilah Curran dan Park (2000) sehingga muncul perspektif alternatif pada studi komunikasi internasional dari Eropa dan Asia.

Konsep Komunikasi Internasional

Konsep komunikasi Internasional : who says what in which channel to whom with what effect.

Kriteria Komunikasi Internasional 

a.       Jenis isu, pesannya bersifat global.

b.      Komunikator dan komunikannya berbeda kebangsaan.

c.       Saluran media yang digunakan bersifat internasional.

d.      Interaksi dan ruang lingkupnya bersifat lintas negara serta berlangsung di antara orang-orang yang berbeda kebangsaan dan memiliki jangkauan penyampaian pesan melintasi batas-batas wilayah suatu negara

Fungsi Komunikasi Internasional

a.       Membangun dan mempererat hubungan internasional antar negara dengan meningkatkan kerjasama dan menghindari berbagai konflik, baik konflik satu negara dengan negara lain maupun konflik pemerintahan dengan masyarakat pada suatu negara. 

b.      Membangun dinamisme hubungan antar negara dan menjalin hubungan baik taraf internasional dengan mencakup kajian dan fokus di berbagai bidang dan kelompok masyarakat pada masing-masing negara maupun antar negara. )

c.       Berperan sebagai pendukung pelaksanaan politik luar negeri yang baik dan berkualitas pada negara-negara yang terkait dalam melaksanakan kepentingannya satu sama lain. 

Ruang  Lingkup Komunikasi Internasional

a.       Perspektif  Diplomatik.

b.      Perspektif  Jurnalistik

c.       Perspektif  Propaganda

d.      Perspektif  Kulturalistik

e.       Perspektif  Bisnis

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Stevenson, R.L. (1994). Global Communication in the Twenty-First Century. New York: Longman.

Herman, Edward and McChesney, R (1997). The Global Media: The Missionaries of Corporate Capitalism. Washington, DC: Cassell.

Mowlana, Hamid (1997). Global Information and World Communication. LondonThousand Oak and New Delhi: Sage Publication.

Alleyne, Mark D.(1995). International Power and International Communication. New York: Marten Press.

Fortner, Robert S.(1993). International Communication: History, Conflict, and Control of the Global Metropolis. Belmont, California: Wadswort Publishing Company.

McMillin, Divya C.(2007). International Media Studies. Main Street, Malden: Blackwell Publishing.

Pakarkomunikasi.com/komunikasi-internasional. Diakses pada 14 Oktober 2020 pukul 10.10

Kompasiana.com/komunikasi-internasional. Diakses pada 14 Oktober 2020 pukul 10.30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Review Pertemuan 1-11 Mata Kuliah Komunikasi Lintas Budaya

 Citra Mutiara Devi ( E1/ B05219012 ) Pertemuan 1 ( 30-09-2020 ) Pada pertemuan pertama pada mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya, pak Ama...