Komunikasi Internasional
Komunikasi internasional, kata
Stevenson (1994:543): “It’s hard to define, but you know it when you see it”.
Selain sulit didefinisikan, para ahli komunikasi pun memberi istilah yang
saling berbeda tentang komunikasi internasional ini. Ada yang menyebutnya
dengan istilah “global communication” (Maulana), “world communication”
(Hamelink, 1994), atau “transnational communication” (volkmer). Sementara
Kamalipour (2002:xii-xiii) selain menerima istilah di atas, ia menambahkan pula
istilah “transborder communication, intercultural communication, cross-cultural
communication dan international relations” sebagai padanan lain dari istilah
komunikasi internasional”. Bagi Kamalipour, semua istilah itu mengandung konsep
yang multidimensional dan sangat kompleks. Karena itu, setiap usaha merumuskan
definisi yang sederhana pasti hasilnya tidak lengkap dan akan mengundang
perdebatan. Kata “international” didefinisikan Collins English Dictionary
(2006:417) sebagai: “1) of or involving two or more nations..”. Rumusan ini
menjelaskan adanya hubungan antarnegara-bangsa satu dengan yang lainnya. Dari
defenisi ini, dapat dipahami bila ada yang mengartikan komunikasi internasional
oleh McMillin (2007:8) sebagai:”komunikasi yang berlangsung antarbatas
persilangan internasional yakni yang melintasi batas-batas
negara-bangsa”(Fortner, 1993:6). Sementara McPhail merumuskan komunikasi
internasional sebagai “The cultural economical, political, social and technical
analysis of communication patterns and effects across and between
nationstate”(2000:2).
Dari definisi-definisi itu dapat dilihat bahwa
komunikasi internasional lebih berfokus sebagai bagian dari studi hubungan
internasional (Mowlana, 1996;1997). Fokus hubungan internasional selama ini
berpusat pada interaksi antarnegara dan antarpemerintahan yang dilakukan
melalui diplomasi dan aktivitas propaganda yang menempatkan negara yang kuat
mendikte agenda komunikasi negara yang lemah. Allyne (1995:7) misalnya,
mengaitkan hubungan internasional dengan komunikasi internasional. Bila
hubungan internasional diartikan substansial sebagai kekuasaan (power), maka
ada tiga kekuasaan yang menonjol dalam dinamika hubungan internasional, yakni:
militery power, economic power and power over opinion. Unsur power over opinion
inilah yang secara khusus menjadi bahasan dari kajian komunikasi internasional.
Sejarah
Komunikasi Internasional
“Sejarah komunikasi internasional dan pertukaran
budaya” kata Kamalipour, dalam Global Communication (2002:viii), “sama tuanya
dengan peradaban manusia”. Masyarakat beradab yang tidak pernah dipengaruhi
oleh kebudayaan lain, tak akan pernah ada. Pada masa kuno atau abad pertengahan
saling mempengaruhi peradaban adalah sesuatu yang lumrah. Tidak ada seorang pun
yang mengeluhkannya. Tetapi belakangan, tepatnya sejak abad ke-19 pengaruh
kebudayaan asing mulai menjadi masalah karena dua alasan kata Kamalipour.
Pertama, batas dan skala pengaruh kebudayaan asing meningkat signifikan. Kedua,
bangkitnya nasionalisme di banyak kawasan negeri telah mempengaruhi cara
pandang orang terhadap kebudayaan asing. Lahirnya komunikasi internasional di
Amerika, Inggris, dan hampir di seluruh kawasan Eropa adalah pada abad 20 dalam
konteks propaganda, ekspansi nasional dan penaklukan. Untuk kepentingan riset
propaganda, Amerika pada PD I dan II telah membentuk program komunikasi
internasional sebagai bidang studi yang resmi di berbagai universitas Amerika
Utara. Para sarjana komunikasi antara 1920-an hingga 1950-an banyak berasal dari
disiplin ilmu sosiologi, ekonomi dan ilmu politik(McMillin,2007:28). Pada 1926
Harold D. Lasswell mengkaji teknik-teknik perang psikologis bersama Walter
Lippman, editor devisi propaganda Amerika. Mereka mempelajari efek teknologi
komunikasi terhadap dunia Barat. Hasilnya kemudian, membawa bidang studi
komunikasi menjadi bagian dari ilmu sosial. Keduanya – Lippman dan Lasswell –
mempromosikan rumus: “who – say what – to whom - with what effect”.
Pada 1955 Massachusetts Institute of Technology
(MIT), Amerika, telah membuka sebuah program studi, bernama:”Studi Komunikasi
Internasional” yang disponsori oleh yayasan perguruan tinggi itu (Allyene,
1997:9). Sejak 1960-an bidang studi ini kemudian dilembagakan di Amerika
sebagai salah satu bagian dari bidang studi “Hubungan Internasional”. Banyak
sarjana komunikasi internasional dididik dengan latar belakang hubungan
internasional seperti misalnya, Hamid Maolana. Sementara yang lain
berlatarbelakang ilmu sosiologi seperti Everet M. Rogers dan ilmu psikologi
seperti Karl Nordenstreng. Sehabis Perang Dunia II, terjadi Perang Dingin (Cold
War) antara Blok Barat yang dipimpin Amerika dengan Blok Timur yang dipimpin
Uni Soviet. Perang ini berlangsung dari 1945 hingga 1989 saat tembok Berlin
runtuh. Amerika mewakili ideologi kapitalis dan Soviet mewakili ideologi
sosialis. Dalam konteks pergulatan komunikasi internasional, Amerika
memperjuangkan laissez-faire dan free flow of information yang digagas Komisi
Huchin. Belakangan Unesco juga menuntut free flow across border to lead better
world yang didukung para peneliti program riset komunikasi internasional (KI)
yang tergabung dalam MIT Center for International Studies. MIT ini lalu
membentuk Program Riset dalam Komunikasi Internasional yang dipimpin Lasswell,
Ithiel de Sola Pool, Karl Dutsch, Daniel Lerner, Schramm, dan Lucian Pye. Riset
mereka didanai Ford Foundation.
Keterlibatan Amerika dalam PD II dengan Soviet,
membuat para peneliti bias Barat karena strategi KI dirancang agar proBarat dan
anti-komunis. Paradigma KI yang menjual doktrin free flow dan the ideal to lead
better world kemudian dilegitimasi oleh metoda riset komunikasi yang berpusat
pada efek empiris media yang diprakarsai Lasswell, Lazarsfeld dan Hovland.
Lahirnya paradigma pembangunan modernisasi yang di dalamnya menempatkan media
sebagai magic multiplyer effects pembangunan, telah dijadikan sarana untuk
mencapai cita-cita perubahan masyarakat dari tradisonal menuju modern. Namun
sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi, agensi-agensi kantor berita Barat
seperti Reuters atau French Press Agency dan Associated Press (AP) telah
mengkonstruksi realitas dunia menurut persepsi Barat. Kala itu, Barat lebih
banyak memberitakan berbagai peristiwa negatif negara-negara Dunia Ketiga
seperti Amerika Latin, Afrika dan Asia. Mereka digambarkan sebagai negara yang
penuh bencana, kudeta, revolusi dan berita-berita negatif lainnya. Di tengah
kondisi demikian, datang tawaran pinjaman utang luar negeri, alih teknologi dan
resep budaya agar negara-negara Dunia Ketiga mengikuti jalan modernisasi Barat
dan sebagian negara Amerika Latin, Afrika dan Asia pun mengikuti jalan
tersebut.
Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, pada 1960-an
diam-diam muncul para sarjana komunikasi Eropa yang tergabung dalam
International Association Communication Research (IAMCR). Kelompok ini berasal
dari Association for Education in Journalism and mass Communication (AEJMC) yng
memiliki tradisi riset kritis. Dengan bantuan Unesco, mereka membentuk
Education and Research in International Communication. Dalam riset-riset
mereka, ditemukan betapa program-program berita dan hiburan Barat mendominasi
media Amerika latin, Afrika dan Asia. Karena itu, mereka melihat adanya
imperialisme baru yang bukanlah dilakukan secara hard power melainkan melalui
soft power yang disebutnya sebagai imperialisme budaya dan media. Munculnya
mazhab Frankfurt dalam studi komunikasi internasional melalui perspekrtif
dependensia dan ekonomi politik misalnya, studi komunikasi internasional telah
mengalami “de-westernisasi”, meminjam istilah Curran dan Park (2000) sehingga
muncul perspektif alternatif pada studi komunikasi internasional dari Eropa dan
Asia.
Konsep
Komunikasi Internasional
Konsep
komunikasi Internasional : who says what in which channel to whom with what
effect.
Kriteria
Komunikasi Internasional
a. Jenis
isu, pesannya bersifat global.
b. Komunikator
dan komunikannya berbeda kebangsaan.
c. Saluran
media yang digunakan bersifat internasional.
d. Interaksi
dan ruang lingkupnya bersifat lintas negara serta berlangsung di antara
orang-orang yang berbeda kebangsaan dan memiliki jangkauan penyampaian pesan
melintasi batas-batas wilayah suatu negara
Fungsi
Komunikasi Internasional
a. Membangun dan mempererat hubungan internasional
antar negara dengan meningkatkan kerjasama dan menghindari berbagai konflik,
baik konflik satu negara dengan negara lain maupun konflik pemerintahan dengan
masyarakat pada suatu negara.
b. Membangun dinamisme hubungan antar negara dan
menjalin hubungan baik taraf internasional dengan mencakup kajian dan fokus di
berbagai bidang dan kelompok masyarakat pada masing-masing negara maupun antar
negara. )
c. Berperan sebagai pendukung pelaksanaan politik
luar negeri yang baik dan berkualitas pada negara-negara yang terkait dalam
melaksanakan kepentingannya satu sama lain.
Ruang Lingkup Komunikasi Internasional
a. Perspektif
Diplomatik.
b. Perspektif
Jurnalistik
c. Perspektif Propaganda
d. Perspektif
Kulturalistik
e. Perspektif
Bisnis
DAFTAR
PUSTAKA
Stevenson, R.L. (1994). Global Communication in the
Twenty-First Century. New York: Longman.
Herman, Edward and McChesney, R (1997). The Global
Media: The Missionaries of Corporate Capitalism. Washington, DC: Cassell.
Mowlana, Hamid (1997). Global Information and World
Communication. LondonThousand Oak and New Delhi: Sage Publication.
Alleyne, Mark D.(1995). International Power and
International Communication. New York: Marten Press.
Fortner, Robert S.(1993). International
Communication: History, Conflict, and Control of the Global Metropolis.
Belmont, California: Wadswort Publishing Company.
McMillin, Divya C.(2007). International Media
Studies. Main Street, Malden: Blackwell Publishing.
Pakarkomunikasi.com/komunikasi-internasional. Diakses
pada 14 Oktober 2020 pukul 10.10
Kompasiana.com/komunikasi-internasional. Diakses
pada 14 Oktober 2020 pukul 10.30
Tidak ada komentar:
Posting Komentar