Senin, 11 Januari 2021

Definisi, Ruang Lingkup dan Dimensi Komunikasi Lintas Budaya

Definisi Komunikasi Lintas Budaya

Sebelum kita mengetahui apa definisi dari Komunikasi Lintas Budaya, kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang hubungan antara komunikasi dengan budaya itu sendiri. Seperti yang kita ketahui bersama, komunikasi akan diawali dengan asumsi bahwa komunikasi berhubungan dengan kebutuhan manusia dan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia-manusia lainnya. Kebutuhan berhubungan sosial ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia-manusia yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi. Adapun budaya itu sendiri berkenaan dengan cara hidup manusia. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktek komunikasi, tindakan-tindakan sosial, kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik dan teknologi semuanya didasarkan pada pola-pola budaya yang ada di masyarakat. Budaya dan komunikasi tak dapat dipisahkan satu sama lain, karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siap, tentang apa dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Budaya merupakan landasan komunikasi sehingga bila budaya beraneka ragam maka beraneka ragam pula praktek-praktek komunikasi yang berkembang. Para pakar komunikasi telah memberikan gambaran yang beragam tentang definisi komunikasi. John R. Wenburg dan William W.Wilmot juga Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken menjelaskan setidaknya ada tiga kerangka pemahaman mengenai komunikasi, yakni komunikasi sebagai tindakan satu arah, komunikasi sebagai interaksi, dan komunikasi sebagai transaksi. (Prof. Deddy Mulyana, MA, Ph.D, Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar, Rosda, Bandung, 2012 : 67 ). “Who says what in which channel to whom with what effect?”, definisi komunikasi menurut Harold D. Lasswell2 diatas memberikan gambaran tentang komunikasi sebagai suatu proses transmisi pesan. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan yang bersifat satu arah dari komunikator (penyampai pesan) kepada komunikan (penerima pesan) dengan menggunakan media tertentu sehingga memunculkan efek. (Harold D.Lasswell (1902-1978) adalah salah satu four founding fathers atau pelopor dari perkembangan ilmu komunikasi.) Menurut P. Clint Rogers (2009), Komunikasi lintas budaya adalah suatu bidang studi yang meneliti beberapa cara yang dilakukan oleh manusia. Cara – cara tersebut datang dari beberapa manusia yang memiliki latar belakang budaya berbeda untuk berkomunikasi dengan manusia yang lainnya (Cross-Cultural Issues in Online Learning dalam IGI Global Disseminator of Knowledge). Menurut Joseph A Devito, dalam bukunya “Communicology an introduction to the study of communication”,Harper & Row, New York, 1976 mengatakan bahwa komunikasi lintas budaya berbeda dengan komunikasi antar budaya. Jika komunikasi lintas budaya lebih menekankan pada perbandingan pola-pola komunikasi antarpribadi diantara peserta komunikasi yang berbeda kebudayaan, maka studi komunikasi antarbudaya lebih mendekati objek melalui pendekatan kritik budaya.

2.      Dimensi Komunikasi Lintas Budaya

Pemahaman Dimensi Komunikasi Lintas Budaya yang dirumuskan oleh Geert Hofstede (1984) menyatakan bahwa budaya adalah pemograman kolektif dari pikiran yang membedakan anggota satu kelompok atau kategori orang dari yang lain. Hofstede dipandang berkonstribusi besar terhadap manajemen lintas budaya melalui berbagai penelitian tentang lintas budaya khususnya dampak perbedaan budaya nasional terhadap manajemen. Melalui penelitiannya tersebut, Hofstede mengidentifikasi perbedaan mendasar antara budaya nasional dan menemukan empat dimensi budaya yang masing-masing merepresentasikan sebuah perbedaan yang berdasarkan garis lurus. Adapun dimensi budaya menurut Hofstede adalah sebagai berikut :

a.       Power distance. Jarak kekuasaan adalah sejauh mana anggota dengan kekuasaan terbatas dari suatu institusi dan organisasi dalam sebuah negara berharap dan menerima bahwa kekuasaan tersebut didistribusikan secara tidak merata.

b.      Uncertainty avoidance. Penghindaran ketidakpastian merujuk pada sejauh mana anggota suatu budaya merasa terancam oleh situasi yang tidak pasti dan tidak diketahui.

c.       Individualism – collectivism. Individualisme adalah sebuah masyarakat dimana hubungan antara individu bersifat longgar dalam artian setiap orang diharapkan untuk menjaga dirinya sendiri dan keluarga dekatnya saja. Kolektivisme adalah sebuah masyarakat dimana orang sejak lahir dan seterusnya diintegrasikan ke dalam keadaan yang kuat, kohesif dalam kelompok, yang sepanjang masa hidup manusia ters melindungi mereka dengan imbalan kesetiaan yang tidak diragukan lagi.

d.      Masculinity – femininity. Maskulinitas merujuk pada sebuah masyarakat dimana peran sosial gender sangatlah jelas berbeda, misalnya pria seharusnya bersikap asertif, kuat, dan fokus pada kesuksesan materi. Sedangkan wanita seharusnya bersifat sederhana, lembut, dan peduli dengan kualitas hidup. Femininitas merujuk pada sebuah masyarakat dimana peran sosial gender saling tumpang tindih antara pria dan wanita.

e.       Long-term – short term orientation. Dimensi budaya kelima yaitu orientasi jangka panjang dan orientasi jangka pendek merupakan dimensi tambahan yang dikemukakan oleh GLOBE. Yang dimaksud dengan orientasi jangka panjang adalah pembinaan kebajikan yang berorientasi pada penghargaan masa depan khususnya ketekunan dan hemat. Sedangkan, yang dimaksud dengan orientasi jangka pendek merujuk pada pembinaan kebajikan terkait dengan masa lalu dan masa kini khususnya menghormati tradisi, pelestarian budaya, dan memenuhi kewajiban sosial.

Berbagai dimensi budaya tersebut umumnya digunakan untuk mengelola multikulturalisme. Berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli kerapkali mengaitkan berbagai dimensi budaya dengan negosiasi guna meningkatkan kemampuan manajer untuk menjelaskan dan memprediksi dampak budaya.

3.      Ruang Lingkup Komunikasi Lintas Budaya

    Penelitian komunikasi lintas budaya memfokuskan perhatian pada bagaimana budaya-budaya yang berbeda berinteraksi dengan proses komunikasi; bagaimana komponen-komponen komunikasi berinteraksi dengan komponen-komponen budaya. Komponen-komponen Budaya Disiplin yang menelaah komponen-komponen budaya adalah antropologi budaya, sehingga penelitian komunikasi lintas budaya harus mengacu pada disiplin tersebut dalam mengidentifikasi dan mendeskripsikan komponen budaya. Asante mengemukakan enam komponen budaya yang penting: 1. Komponen Pandangan Dunia. Setiap budaya punya caranya yang khas dalam memandang dunia-dalam memahami, menafsirkan dan menilai dunia. Ketika komunikasi lintas budaya terjadi, pandangan dunia akan mempengaruhi proses penyandian dan pengalihasandian. Pandangan dunia juga dapat dipakai untuk memdiagnosis “noise” yang terjadi dan menunjukkan “terapi”-nya. 2. Komponen Kepercayaan (beliefs). Salah satu unsur kepercayaan yang sangat penting dalam komunikasi lintas kultural adalah citra (image) kita dengan komunikasi dari budaya lain. Citra mempengaruhi perilaku kita dalam hubungannya dengan orang yang citranya kita miliki. Citra menentukan desain pesan komunikasi kita. 3. Komponen nilai. Sistem nilai masyarakat dalam budaya tertentu mempengaruhi cara berpikir anggota-anggotanya. Spranger mengemukakan kategori nilai yang terkenal antara lain: nilai ilmiah, nilai religius, nilai ekonomis, nilai estetis, nilai politis dan nilai sosial. 4. Nilai sejarah Lewat sejarah yang mereka ketahui, anggota masyarakat saling bertukar pesan dalam komunikasi lintas budaya. 5. Komponen Mitologi. Mitologi suatu kelompok budaya memberikan pada kelompok pemahaman hubungan-hubungan, yakni, hubungan orang dengan orang, orang dengan kelompok luar, dan orang dengan kekuatan alami. 6. Komponen otoritas status. Setiap budaya mempunyai caranya sendiri dalam mendiskusikan otoritas status. Bersamaan dengan otoritas status ada permainan peran yang ditentukan secara normatif.

 

Daftar Pustaka

Mulyana, Deddy, and Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi antarbudaya. Remaja Rosdakarya, 1990.

http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/05/komunikasi-antar-budaya-definisi-dan.html . diakses pada 7 Oktober pukul 9.10

https://pakarkomunikasi.com/manajemen-komunikasi-lintas-budaya. diakses pada 7 Oktober 2020 pukul 10.05

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Review Pertemuan 1-11 Mata Kuliah Komunikasi Lintas Budaya

 Citra Mutiara Devi ( E1/ B05219012 ) Pertemuan 1 ( 30-09-2020 ) Pada pertemuan pertama pada mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya, pak Ama...