Definisi Komunikasi Lintas Budaya
Sebelum kita mengetahui apa definisi dari Komunikasi Lintas
Budaya, kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang hubungan antara
komunikasi dengan budaya itu sendiri. Seperti yang kita ketahui bersama,
komunikasi akan diawali dengan asumsi bahwa komunikasi berhubungan dengan
kebutuhan manusia dan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan
manusia-manusia lainnya. Kebutuhan berhubungan sosial ini terpenuhi melalui
pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan
manusia-manusia yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi. Adapun budaya itu
sendiri berkenaan dengan cara hidup manusia. Bahasa, persahabatan, kebiasaan
makan, praktek komunikasi, tindakan-tindakan sosial, kegiatan-kegiatan ekonomi
dan politik dan teknologi semuanya didasarkan pada pola-pola budaya yang ada di
masyarakat. Budaya dan komunikasi tak dapat dipisahkan satu sama lain, karena
budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siap, tentang apa dan
bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya
untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Budaya merupakan landasan
komunikasi sehingga bila budaya beraneka ragam maka beraneka ragam pula
praktek-praktek komunikasi yang berkembang. Para pakar komunikasi telah memberikan
gambaran yang beragam tentang definisi komunikasi. John R. Wenburg dan William
W.Wilmot juga Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken menjelaskan setidaknya
ada tiga kerangka pemahaman mengenai komunikasi, yakni komunikasi sebagai
tindakan satu arah, komunikasi sebagai interaksi, dan komunikasi sebagai
transaksi. (Prof. Deddy Mulyana, MA, Ph.D, Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar,
Rosda, Bandung, 2012 : 67 ). “Who says what in which channel to whom with what
effect?”, definisi komunikasi menurut Harold D. Lasswell2 diatas memberikan
gambaran tentang komunikasi sebagai suatu proses transmisi pesan. Komunikasi
adalah proses penyampaian pesan yang bersifat satu arah dari komunikator
(penyampai pesan) kepada komunikan (penerima pesan) dengan menggunakan media
tertentu sehingga memunculkan efek. (Harold D.Lasswell (1902-1978) adalah salah
satu four founding fathers atau pelopor dari perkembangan ilmu komunikasi.) Menurut P.
Clint Rogers (2009), Komunikasi lintas
budaya adalah suatu bidang studi yang meneliti beberapa cara yang
dilakukan oleh manusia. Cara – cara tersebut datang dari beberapa manusia yang
memiliki latar belakang budaya berbeda untuk berkomunikasi dengan manusia yang
lainnya (Cross-Cultural Issues in
Online Learning dalam IGI
Global Disseminator of Knowledge). Menurut Joseph A Devito, dalam bukunya “Communicology an introduction to the study
of communication”,Harper & Row, New York, 1976 mengatakan bahwa
komunikasi lintas budaya berbeda dengan komunikasi antar budaya. Jika
komunikasi lintas budaya lebih menekankan pada perbandingan pola-pola
komunikasi antarpribadi diantara peserta komunikasi yang berbeda kebudayaan, maka
studi komunikasi antarbudaya lebih mendekati objek melalui pendekatan kritik
budaya.
2. Dimensi
Komunikasi Lintas Budaya
Pemahaman Dimensi Komunikasi Lintas Budaya yang dirumuskan oleh
Geert Hofstede (1984) menyatakan bahwa budaya adalah pemograman kolektif dari
pikiran yang membedakan anggota satu kelompok atau kategori orang dari yang
lain. Hofstede dipandang berkonstribusi besar terhadap manajemen lintas budaya
melalui berbagai penelitian tentang lintas budaya khususnya dampak perbedaan
budaya nasional terhadap manajemen. Melalui penelitiannya tersebut, Hofstede
mengidentifikasi perbedaan mendasar antara budaya nasional dan menemukan empat
dimensi budaya yang masing-masing merepresentasikan sebuah perbedaan yang
berdasarkan garis lurus. Adapun dimensi budaya menurut Hofstede adalah
sebagai berikut :
a. Power distance. Jarak kekuasaan adalah sejauh mana anggota
dengan kekuasaan terbatas dari suatu institusi dan organisasi dalam sebuah
negara berharap dan menerima bahwa kekuasaan tersebut didistribusikan secara
tidak merata.
b. Uncertainty avoidance. Penghindaran
ketidakpastian merujuk pada sejauh mana anggota suatu budaya merasa terancam
oleh situasi yang tidak pasti dan tidak diketahui.
c. Individualism – collectivism. Individualisme adalah sebuah masyarakat dimana hubungan
antara individu bersifat longgar dalam artian setiap orang diharapkan untuk
menjaga dirinya sendiri dan keluarga dekatnya saja. Kolektivisme adalah sebuah
masyarakat dimana orang sejak lahir dan seterusnya diintegrasikan ke dalam
keadaan yang kuat, kohesif dalam kelompok, yang sepanjang masa hidup manusia
ters melindungi mereka dengan imbalan kesetiaan yang tidak diragukan lagi.
d. Masculinity – femininity. Maskulinitas merujuk pada sebuah masyarakat dimana peran
sosial gender sangatlah jelas berbeda, misalnya pria seharusnya bersikap
asertif, kuat, dan fokus pada kesuksesan materi. Sedangkan wanita seharusnya
bersifat sederhana, lembut, dan peduli dengan kualitas hidup. Femininitas
merujuk pada sebuah masyarakat dimana peran sosial gender saling tumpang tindih
antara pria dan wanita.
e. Long-term – short term orientation. Dimensi budaya kelima yaitu orientasi jangka panjang dan orientasi
jangka pendek merupakan dimensi tambahan yang dikemukakan oleh GLOBE. Yang
dimaksud dengan orientasi jangka panjang adalah pembinaan kebajikan yang
berorientasi pada penghargaan masa depan khususnya ketekunan dan hemat.
Sedangkan, yang dimaksud dengan orientasi jangka pendek merujuk pada pembinaan
kebajikan terkait dengan masa lalu dan masa kini khususnya menghormati tradisi,
pelestarian budaya, dan memenuhi kewajiban sosial.
Berbagai dimensi budaya tersebut umumnya digunakan untuk mengelola
multikulturalisme. Berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli
kerapkali mengaitkan berbagai dimensi budaya dengan negosiasi guna meningkatkan
kemampuan manajer untuk menjelaskan dan memprediksi dampak budaya.
3. Ruang
Lingkup Komunikasi Lintas Budaya
Penelitian komunikasi lintas budaya memfokuskan perhatian pada
bagaimana budaya-budaya yang berbeda berinteraksi dengan proses komunikasi;
bagaimana komponen-komponen komunikasi berinteraksi dengan komponen-komponen
budaya. Komponen-komponen Budaya Disiplin yang menelaah komponen-komponen
budaya adalah antropologi budaya, sehingga penelitian komunikasi lintas budaya
harus mengacu pada disiplin tersebut dalam mengidentifikasi dan mendeskripsikan
komponen budaya. Asante mengemukakan enam komponen budaya yang penting: 1.
Komponen Pandangan Dunia. Setiap budaya punya caranya yang khas dalam memandang
dunia-dalam memahami, menafsirkan dan menilai dunia. Ketika komunikasi lintas
budaya terjadi, pandangan dunia akan mempengaruhi proses penyandian dan
pengalihasandian. Pandangan dunia juga dapat dipakai untuk memdiagnosis “noise”
yang terjadi dan menunjukkan “terapi”-nya. 2. Komponen Kepercayaan (beliefs).
Salah satu unsur kepercayaan yang sangat penting dalam komunikasi lintas
kultural adalah citra (image) kita dengan komunikasi dari budaya lain. Citra
mempengaruhi perilaku kita dalam hubungannya dengan orang yang citranya kita
miliki. Citra menentukan desain pesan komunikasi kita. 3. Komponen nilai.
Sistem nilai masyarakat dalam budaya tertentu mempengaruhi cara berpikir
anggota-anggotanya. Spranger mengemukakan kategori nilai yang terkenal antara
lain: nilai ilmiah, nilai religius, nilai ekonomis, nilai estetis, nilai
politis dan nilai sosial. 4. Nilai sejarah Lewat sejarah yang mereka ketahui,
anggota masyarakat saling bertukar pesan dalam komunikasi lintas budaya. 5.
Komponen Mitologi. Mitologi suatu kelompok budaya memberikan pada kelompok
pemahaman hubungan-hubungan, yakni, hubungan orang dengan orang, orang dengan
kelompok luar, dan orang dengan kekuatan alami. 6. Komponen otoritas status.
Setiap budaya mempunyai caranya sendiri dalam mendiskusikan otoritas status.
Bersamaan dengan otoritas status ada permainan peran yang ditentukan secara
normatif.
Daftar Pustaka
Mulyana, Deddy, and
Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi
antarbudaya. Remaja Rosdakarya, 1990.
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/05/komunikasi-antar-budaya-definisi-dan.html
. diakses pada 7 Oktober pukul 9.10
https://pakarkomunikasi.com/manajemen-komunikasi-lintas-budaya.
diakses pada 7 Oktober 2020 pukul 10.05
Tidak ada komentar:
Posting Komentar