Komunikasi konteks tinggi
Komunikasi konteks tinggi adalah komunikasi yang bersifat
implisit dan ambigu, yang menuntut penerima pesan agar menafsirkannya sendiri.
Komunikasi konteks tinggi bersifat tidak langsung, tidak apa adanya. Komunikasi
konteks – tinggi mengandung pesan relatif banyak terdapat dalam konteks fisik
(physical context), sehingga makna pesan hanya dapat dipahami dalam konteks
pesan tersebut.
Dalam komunikasi konteks tinggi, makna terinternalisasikan
pada orang yang bersangkutan, dan pesan lebih ditekankan pada aspek non –
verbal (internalized in the person while very little is in the coded). Dalam
komunikasi yang demikian, mengetahui suatu kata atau huruf hanya memberi
sedikit makna bila tidak diketahui konteks penggunaannya.
Ciri-ciri komunikasi konteks tinggi
a. Typically short ( yang singkat )
b. Pithy (penuh Arti )
c. Poetic ( Puitis ).
Komunikasi konteks tinggi sangat mungkin dipahami jika
digunakan di dalam kelompoknya sendiri (in group), tidak untuk kelompok luar
(outsiders)
Ciri-ciri budaya konteks tinggi
a. Pengambilan keputusan (decision making) terhadap suatu hal
cenderung lamban dan di perlambat, bukan maksud untuk mengulur-ngulur waktu dan
juga bukan karena kurang cerdas, namun karena cenderung menjaga perasaan orang
lain
b. terkadang pemecahan masalah (problem solving) tidak mengacu
pada subtansi awal, sehingga cenderung kemana-mana
c. agak sedikit lamban jika membuat keputusan dalam suatu
negosiasi, namun jika orang yang diajak negoisasi adalh yang sangat kredibel
dan sangat dipercaya maka, proses negosiasi akan berlangsung cepat
d. Masalah pribadi biasanya tidak terpisah dari masalah
pekerjaan
e. Adanya jarak antara atasan dengan bawahan
Komunikasi konteks-tinggi bertipikal sedikit berbicara,
implisit, puitis. Orang berbudaya konteks-tinggi menekankan isyarat
kontekstual, sehingga ekspresi wajah, tensi, gerakan, kecepatan interaksi dan
lokasi interaksi lebih bermakna. Orang dalam berbudaya konteks-tinggi
mengharapkan orang lain memahami suasana hati yang tak terucapkan, isyarat
halus dan isyarat lingkungan.
Dalam interaksi konteks-tinggi pesan dalam komunikasi akan mudah dimengerti oleh kelompoknya (orang yang berkonteks-tinggi).Sulitnya untuk mengatakan tidak, bagi orang Indonesia bukan sekedar basa-basi, situasi demikian benar-benar ada apa adanya (reality) di lingkungan kita sehari-hari, yang oleh Edward T. Hall dikatakan ‘places cultures along a continuum’ (bersemi ada dalam budayanya). Orang Indonesia lebih memilih diam daripada mengucapkan kata tidak secara langsung.
2. Komunikasi konteks rendah
Komunikasi konteks rendah adalah komunikasi yang bersifat
langsung, apa adanya, lugas tanpa berbelit-belit ngalor-ngidul. Karakter
komunikasi semacam ini biasa terjadi di Barat, mereka sukanya to the point
tidak suka basa-basi.
Pada umumnya, komunikasi konteks-rendah ditujukan pada pola
komunikasi mode lisan langsung (direct verbal mode)- pembicaraan lurus,
kesiapan non verbal (nonverbal immediacy) dan mengirim berorientasi nilai
(sender-oriented values). Pengirim bersikap tanggung jawab untuk menyampaikan
secara jelas. Dalam komunikasi konteks rendah, pembicara diharapkan untuk lebih
bertanggung jawab untuk membangun sebuah kejelasan, pesan yang meyakinkan sehingga
pendengar dapat membaca sandi (decode) dengan mudah.
Ciri-ciri komunikasi konteks rendah
a. must be longer
b. more elaborated
c. explicit
(ciri komunikasinya bisa menggambarkan atau bisa juga
menjelaskan hingga cukup tampak rinci dan panjang, dan saat itu juga
disampaikan secara eksplisit).
Ciri-ciri budaya konteks rendah
a. Decision making cepat, fokus, dan effisien, bahkan cenderung
tidak memikirkan perasaan orang lain, karena penganut budaya ini terbiasa
berkata apa adanya
b. Problem solving juga fokus kepada subtansi dan focuss serta
tidak keluar kemana-mana
c. Negosiasi cepat aslakan ada bukti dan keterangan tertulis
yang kuat
d. Professional dan tidak mencampurkan masalah pribadi dengan
pekerjaan
e. Atasan dengan bawahan terbuka dan tidak ada sapaan
kehormatan seperti Mr/Mrs kepada atasan.
Budaya konteks-rendah cenderung menganut “waktu monokronik”,
waktu monokronik adalah waktu yang berjalan secara linear. Waktu linear
dianggap berjalan dari masa lalu ke masa depan, seperti garis lurus, dan tidak
pernah kembali. Waktu dianggap objektif, dapat dihitung, dihemat, dihabiskan,
dan dibuang. Maka waktu menjadi berharga, sehingga muncullah pribahasa Time is
money. Efisiensi waktu adalah ciri khas dari budaya konteks-rendah,
one-thing-at-one-time, being on time,getting the job done by a deadline.
DAFTAR PUSTAKA
Angela Gamsriegler.2005.High-Context And Low-Context Communication Styles. Ibid. halaman 3.
Hall, E. T. (1976). Beyond culture. New York: Dubleday Dell Publishing.
Mulyana,Deddy.2008.Komunikasi Efektif Suatu Pendekatan
Lintas Budaya : Bandung,Remaja Rosdakarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar